Menumbuhkan Nasionalisme dengan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

cinta, bangga, paham rupiah



Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Hal apa yang disukai ketika lebaran? Banyak! Waktu kecil dulu, salah satu hal yang paling aku nantikan adalah mendapat THR dari Bapak, Ibu, Om, Tante, Pakde, Bude, Kakek, dan Nenek. Biasanya, uangnya baru, masih kinclong, nggak ada bekas lipatan, coretan, dan nggak ada jejak staples. Baunya masih khas, wangi uang baru, dan nggak kusut, seperti baru disetrika hahaha.

Uang baru itu akan bertahan lama di dompet karena sayang untuk dibelanjakan. Kalau mau jajan, pakai uang lama yang sudah lecek. Pada akhirnya uang baru itu akan dipakai juga saat stok uang lecek sudah habis.

Namun, bukankah semua uang lecek itu awalnya adalah uang baru? Uang baru yang diperlakukan dengan semena-mena. Coba bayangkan jika semua orang merawat uangnya dengan baik. Maka, semua uang yang beredar akan selalu terlihat seperti baru, bukan?


Dengan begitu, kita nggak perlu lagi khawatir mendapat kembalian uang dengan selotip melintang di sana, menyambungkan dua bagian yang sobek. Nggak ada lagi uang kertas yang beralih fungsi menjadi surat atau memo yang penuh dengan pesan untuk seseorang di antah berantah. Dan, kita bisa terhindar dari uang yang kusut seperti baju kamu yang sudah seabad nggak disetrika.

Sayangnya, kesadaran untuk merawat uang dengan baik masih minim. Coba diingat, kapan terakhir kali kamu mendapat uang yang masih cling? Kondisi uang di dompet kita masing-masing bisa menjadi tanda bagaimana masyarakat memperlakukan uang.

Jadi, bagaimana agar kita, sebagai masyarakat Indonesia mau merawat uang dengan baik? Tentu saja kita perlu menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan paham terhadap uang kita, rupiah. Jika kita mencintai sesuatu, kita akan berusaha merawatnya sebaik mungkin, bukan?

Jadi, yuk mulai tumbuhkan rasa cinta, bangga dan paham rupiah sebagai salah satu bentuk nasionalisme kita.


Cinta Rupiah

Aku cinta rupiah, biar dollar di mana-mana
Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia
Mau beli baju pakai rupiah
Jajannya juga pakai rupiah
Mau beli buku, buku sekolah
Karena kusayang ya rupiah…

Siapa yang langsung bernyanyi saat membaca tulisan di atas? Kalau ada, berarti kita seumuran hehe. Tulisan di atas adalah lirik lagu anak berjudul “Aku Cinta Rupiah” yang dinyanyikan Cindy Cenora. Generasi 90-an pasti tahu lagu ini. Sepertinya lagu ini harus dibuat versi terbarunya untuk mengedukasi anak-anak zaman now agar cinta rupiah sedari dini.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mencintai rupiah? Tak kenal maka tak sayang. Sesuai dengan pepatah tersebut, maka kita perlu mengenali karakteristik, desain dan filosofi rupiah. Kemudian, kita harus merawat dan memperlakukan rupiah dengan tepat. Terakhir, kita perlu mempunyai pengetahuan tentang penanggulangan uang palsu agar terhindar dari kejahatan uang palsu.

Nah, sudahkah kita mengenali uang rupiah untuk membedakannya dengan uang palsu? Cara mudahnya adalah dengan 3D, dilihat, diraba, diterawang. Sudah pada tahu kan?


1. Dilihat

Uang rupiah mempunyai benang pengaman yang mudah terlihat pada semua nominal uang kertas.

2. Diraba

Jika diraba, uang rupiah asli tidak terasa mulus. Namun, ada bagian yang terasa kasar, yaitu pada gambar garuda pancasila, angka nominal, huruf terbilang, tulisan “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, dan tulisan Bank Indonesia.

3. Diterawang

Angkat uang dan arahkan ke cahaya. Kita akan melihat gambar pahlawan, logo Bank Indonesia, dan gambar ornamen pada pecahan tertentu.

Mudah kan cara mengenali keaslian rupiah? Lalu bagaimana jika mendapat uang palsu? Segera laporkan ke bank terkait untuk dimintakan konfirmasi ke Bank Indonesia, atau bisa juga langsung melapor ke Bank Indonesia.

Setelah mengenal rupiah, kita perlu menjaganya. Cara mudahnya adalah dengan 5J (5 jangan), yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distaples, jangan diremas, dan jangan dibasahi. Jadi, ketika mendapat uang, simpanlah yang rapi di dompet. Jangan disumpalkan ke dalam kantong baju atau celana karena akan kusut dan berisiko ikut tercuci ketika bajunya dicuci.

Bangga Rupiah

Kenapa harus bangga dengan rupiah? Karena rupiah adalah identitas bangsa, simbol kedaulatan NKRI, alat pembayaran yang sah, serta alat pemersatu bangsa. Seseorang yang membanggakan sesuatu cenderung akan menunjukkannya, kan? Seperti ibu-ibu yang bangga dengan anaknya, pasti akan menceritakannya kepada kerabat.

Nah, jika kita bangga dengan rupiah, maka kita tidak akan malu untuk berbelanja dan menabung dengan rupiah.

Bangga Rupiah Sebagai Simbol Kedaulatan

Indonesia memiliki mata uang sebagai simbol kedaulatan yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh Warga Negara Indonesia. Oleh karena itu, setiap daerah di Indonesia wajib menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran.

Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan menyisakan hikmah yang harus dipetik. Kedua pulau yang terletak di sebelah timur laut Pulau kalimantan tersebut terpaksa direlakan untuk menjadi milik Malaysia atas keputusan Mahkamah Internasional.

Rupiah tidak digunakan di kedua pulau tersebut sebagai alat transaksi, tetapi ringgitlah yang digunakan. Tidak digunakannya rupiah di Sipadan dan Ligitan menjadi salah satu penyebab jatuhnya kedua pulau tersebut ke tangan negara tetangga.

Kini, penggunaan rupiah sebagai simbol kedaulatan sudah tertuang dalam UU Mata Uang No 7 tahun 2011 yang menyebutkan bahwa rupiah sebagai mata uang merupakan salah satu simbol kedaulatan NKRI sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi daerah di Indonesia yang menggunakan mata uang lain selain rupiah.

bangga-rupiah-pemersatu-bangsa
Beberapa seri uang rupiah. Sumber gambar: presentasi Bank Indonesia Jambi


Bangga Rupiah Sebagai Alat Pembayaran yang Sah

Cinta dan bangga perlu bukti yang nyata, bukan sekadar dengan kata-kata. Apa buktinya kalau kita bangga dengan rupiah? Sederhana saja, gunakan rupiah sebagai alat pembayaran ketika berbelanja.

Aku sih memang menggunakan rupiah untuk membayar, karena aku hanya berbelanja di toko atau swalayan sekitar rumah saja. Berbelanja online pun bayar dengan rupiah. Justru kalau aku membayar dengan dolar mungkin akan ditolak karena nggak laku di sini.

Tentu kita tidak ingin tragedi Sipadan dan Ligitan terulang, bukan? Oleh karena itu, kita perlu mempertahankan rupiah sebagai alat pembayaran.


Bangga Rupiah Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Indonesia melalui jalan yang sangat panjang sebelum menerbitkan rupiah. Banyak mata uang yang beredar mulai dari zaman kerajaan, masa penjajahan Kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, hingga kemerdekaan.

Setelah merdeka, tepatnya pada Oktober 1946, Indonesia menerbitkan mata uang sendiri yang bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). Sejak saat itu, pemerintah mulai menarik peredaran uang invasi Jepang dan uang Pemerintah Hindia Belanda.

Namun, saat itu ORI belum bisa didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia karena masalah perhubungan dan keamanan. Pemerintah Belanda masih menduduki beberapa wilayah Indonesia sehingga tidak mudah untuk mendistribusikan ORI. Oleh karena itu, pemerintah memberikan otoritas kepada pemerintah daerah tertentu untuk menerbitkan uang sendiri yang disebut Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA).

ORI dan ORIDA hanya berlaku sampai 1 Januari 1950 dan berganti dengan Uang Rupiah Republik Indonesia Serikat. Rupiah mulai digunakan pada tahun 1952 hingga sekarang.


bangga rupiah
Beberapa mata uang yang pernah beredar di Indonesia.
Sumber gambar: presentasi Bank Indonesia Jambi


Sejarah tersebut menunjukkan bahwa mata uang juga berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa. Pemerintah berjuang untuk membuat mata uang sendiri setelah merdeka. Tidak bisa dibayangkan bagaimana repotnya jika mata uang setiap daerah berbeda-beda.

Sebagai simbol persatuan bangsa, Bank Indonesia secara konsisten mengangkat kisah perjuangan bangsa dan keragaman budaya Indonesia pada desain uang rupiah. Kita bisa belajar sejarah dari desain uang rupiah. Lihat saja gambar para pahlawan yang tertera, apakah kamu sudah tahu bagaimana perjuangan pahlawan tersebut?


Paham Rupiah dengan Bijak Berbelanja

Bijak berbelanja bukan berarti kita tidak boleh berbelanja. Namun, kita harus lebih bijak dalam berbelanja dengan membeli produk dalam negeri. Banyaknya masyarakat yang suka berbelanja produk impor memengaruhi kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita memilih produk dalam negeri, terutama produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain untuk membantu memajukan UMKM, kita juga membantu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Apalagi sejak pandemi ini, banyak yang mengalami kesulitan ekonomi. Alangkah baiknya jika kita membantu pelaku UMKM yang terdampak agar bangkit. Bank Indonesia pun turut membantu pengembangan UMKM dengan mengadakan beberapa acara, yaitu:

1. Karya Kreatif Indonesia (KKI)
2. Gerakan Nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia dalam Memajukan UMKM Tanah Air
3. Gerakan 12 Juta UMKM Terhubung QRIS 2021
4. Festival Ekonomi Syariah.


Nah, sudahkan kita menumbuhkan nasionalisme dengan cinta, bangga, dan paham rupiah? Kita bisa mulai dengan langkah yang sederhana lho, misalnya dengan merawat uang rupiah kita agar tetap cling seperti uang baru yang kita dapat dari keluarga saat lebaran. Mudah, bukan? Yuk, mulai dari diri sendiri dan mengajak orang terdekat untuk cinta, bangga, dan paham rupiah.










Post a Comment

0 Comments