5 Momen Seru Bulan Ramadan di Masa Kecil yang Kurindukan

momen ramadan



Sekumpulan anak-anak berjalan kaki dan berlarian sambil berceloteh riang. Anak-anak perempuan memakai mukena yang kebanyakan berwarna putih. Zaman dulu motif dan model mukena belum banyak macam sekarang.

Beberapa anak laki-laki memakai sarung. Ada juga yang menyampirkan sarungnya di pundak atau membuat sarungnya menjadi topeng ninja. Peci kecil tak ketinggalan melengkapi penampilan mereka yang hendak ke masjid.

"Doorr, doorrr," ada saja yang bermain petasan di dekat masjid. Tak ada rasa takut dimarahi para orang tua dan sesepuh.

Menjelang waktu sholat Isya, warga sekitar mulai berdatangan di masjid. Termasuk sekumpulan anak-anak itu, yang biasanya akan di tempatkan di shaf agak belakang, selang-seling dengan orang tua. Pasalnya, jika mereka disatukan dalam satu barisan, biasanya akan ribut dan mengganggu kekhusyukan sholat tarawih.

Memori otakku berputar ke kenangan masa kecilku ketika melihat tema tulisan tentang "kebiasaan yang menyenangkan ketika Ramadan". Sholat tarawih bersama di masjid menjadi salah satu momen yang menyenangkan, apalagi jika pergi bersama teman sepermainan.

Sekarang, aku bahkan lupa kapan terakhir kali tarawih di masjid. Sejak menjadi emak-emak aku memilih tarawih di rumah, terutama saat anakku masih balita. Namun, sayangnya pandemi belum juga berakhir sekarang, ketika anakku sudah mulai belajar puasa. Lagi-lagi aku memilih sholat di rumah saja.

Ada beberapa kegiatan menyenangkan di Bulan Ramadan yang aku rindukan. Apalagi jika mengingat masa kecil dulu. Ah, jadi makin ingin pulang kampung deh. Berhubung belum bisa mudik, jadi aku tulis saja kegiatan Ramadanku yang menyenangkan di masa kecil.


1. Tarawih bersama dan berebut jlaburan


Sekilas tentang tarawih sudah aku ceritakan di awal. Setelah sholat Isya, imam akan memberikan khotbah. Kadang, aku dan beberapa anak lain tidak memperhatikan, malah asyik ngobrol sendiri.

Namun, kami tidak senakal itu. Ada kalanya kami sadar diri mendengarkan ceramah Pak Ustadz atau demi mengisi buku kegiatan Ramadan yang merupakan tugas dari sekolah. Beberapa dipaksa memperhatikan ceramah karena diomeli oleh orang tua, biasanya yang ini karena terlalu berisik.

Setelah selesai tarawih, anak-anak tidak langsung pulang. Ada dua misi lagi yang harus ditunaikan, yaitu minta tanda tangan imam tarawih di buku Ramadan dan meminta jatah jlaburan.

Ngomong-ngomong, tahukah apa jlaburan itu? Jlaburan adalah makanan ringan atau minuman yang dibagikan setelah sholat tarawih. Membagikan jlaburan untuk anak-anak adalah tradisi di daerahku, di Jawa Tengah. Entah ada daerah lain yang punya tradisi itu juga atau nggak.

Warga sekitar dibuatkan jadwal untuk bergantian memberikan makanan jlaburan. Jlaburan menjadi salah satu penyemangat anak-anak untuk ke masjid. Namanya anak-anak, pasti suka dikasih jajanan kan?


2. Tadarus Bersama di Masjid


Masjid tidak pernah sepi ketika Ramadan, sampai malam pun masih banyak yang tadarus. Ibuku dulu sering ikut tadarus bersama setelah tarawih. Lalu, aku ikut diajak saat sudah bisa membaca Al-Qur'an.

Kami duduk melingkar. Meja-meja kecil diletakkan di depan kami untuk meletakkan kitab suci, juga untuk menaruh makanan ringan dan minuman. Suara tilawah bergantian, satu mengaji dan yang lain menyimak.

Kami pulang setelah membaca 1-2 juz. Dengan begitu, setidaknya kami khatam 1 kali. Ketika khatam 30 juz, biasanya diadakan acara khataman. Semua warga sekitar diundang untuk buka bersama di masjid. Sungguh menyenangkan.


3. Ngabuburit dan Menyiapkan Menu Berbuka

Dulu aku sangat senang jika bapak mengajakku ngabuburit. Padahal kegiatannya nggak istimewa, sekadar berkeliling-keliling naik motor, kadang mampir beli es kelapa atau minuman dingin lain.

Kadang aku juga membantu ibu memasak untuk berbuka. Jika ibu membuat kolak, aku bertugas mengupas dan memotong pisang. Setelah selesai, kami nongkrong di depan TV, nonton acara Ramadan sambil menunggu adzan. "Lorong Waktu" adalah acara TV terfavoritku dulu. Perjalanan Zidan dan Pak Haji melewati lorong panjang melintasi ruang dan waktu tak pernah membosankan.


4. Sahur Tanpa Ribet

Sudah lebih dari 10 tahun aku merantau, berarti sudah lebih dari 10 kali Ramadan aku harus turun tangan untuk menyiapkan sahur.

Tujuh Ramadan terakhir keremponganku untuk menyiapkan sahur bertambah karena aku sudah berkeluarga. Apalagi sekarang anakku lagi belajar puasa, harus memikirkan menu sahur yang cocok untuknya.

Rasanya amat rindu suasana sahur seperti waktu kecil dulu. Ibu membangunkanku untuk sahur, makanan pun sudah siap. Biasanya kami makan sambil menonton TV. Salah satu acara yang aku ingat adalah "Para Pencari Tuhan".

Setelah jadi emak-emak, aku jadi tahu perjuangan ibuku dulu. Mana aku jarang bantuin lagi hmm. Semoga menjadi ladang pahala bagi kita para ibu yang menyiapkan makanan sahur dan berbuka.


5. Membeli Baju Lebaran

Semingguan menuju lebaran, ratusan orang berjubel di pusat perbelanjaan pakaian. Aku tidak tinggal di kota besar, tak ada mall di sana.

Para ibu membolak-balik baju, memilih yang terbaik untuk anak, suami, dan diri sendiri. Sedangkan para suami pasrah menunggu istri mereka berbelanja. Ada yang ikut masuk ke toko. Beberapa memilih menunggu di motor, semakin lama menunggu semakin kusut wajahnya. Apalagi jika sang istri tak kunjung menampakkan dirinya keluar dari toko, sunggih ujian kesabaran di akhir Ramadan bagi bapak-bapak.

Anak-anak yang paling sumringah karena akan mendapat baju baru. Dulu, membeli baju lebaran adalah suatu kemewahan bagiku. Mungkin karena aku jarang beli baju hehe. Jadi, tak boleh melewatkan kesempatan beli baju baru untuk lebaran.

Setelah jadi ibu, aku lebih suka belanja online. Tinggal buka aplikasi marketplace lalu cari apa yang dibutuhkan, bisa sambil rebahan pula. Sungguh suatu kemudahan di era teknologi. Apalagi sekarang masih pandemi, belanja online akan lebih aman.

Kebanyakan momen menyenangkan di masa kecil adalah ketika bersama dengan teman dan berkumpul dengan keluarga. Bagaimana dengan tradisi Ramadan di tempatmu? Mengenangnya membuatku semakin rindu untuk pulang. Semoga saja pandemi ini segera berlalu agar kita bisa mudik dengan leluasa.


Post a Comment

0 Comments