Kurangi Omelan dan Marah-marah Dengan Belajar Mengelola Emosi Sebagai Orang Tua

mengelola emosi



"Umi, gini kan ceritanya? Dulu umi lihat foto abi, abi lihat foto umi, terus ketemu, terus menikah. Terus umi hamil, terus punya adek bayi. Sekarang udah besar diomelin terus. Gitu kan?" Aku yang lagi menjemur baju langsung tertawa miris mendengar ocehan si kecil yang berusia 5,5 tahun ini.

Beberapa hari lalu aku menceritakan proses pertemuanku dengan abinya melalui ta'aruf, tanpa pacaran. Bukan tiba-tiba aku menceritakannya. Semua karena Khanza sudah tahu kata pacaran, tentu saja ia tahu dari teman-temannya. Sejak sering bermain dengan anak-anak sekitar, ia jadi punya banyak kosakata baru. Aku dan suami punya PR tambahan untuk memfilter kosakata baru Khanza.

Pagi tadi, nggak ada angin nggak ada hujan, Khanza mengulang cerita ta'aruf yang aku ceritakan. Namun, dengan cerita tambahan, yaitu tentang kelahirannya dan mungkin isi hatinya sekarang, sering diomelin umi-abi. Ternyata, Khanza juga cerita hal tersebut ke suami. 

Mendengar cerita Khanza itu, kami jadi berpikir, apakah hanya omelan kami yang diingat Khanza. Kami pun sepakat untuk mengurangi omelan dan marah-marah ke Khanza dan saling mengingatkan jika keceplosan. Kami masih harus belajar mengelola emosi sebagai orang tua.


Akibat Negatif Jika Anak Sering Dimarahi

Bukan sekali atau dua kali aku membaca tentang dampak negatif jika anak sering dibentak. Oleh karena itu, aku belajar untuk mengelola emosi, agar tidak marah-marah kepada anak. Marah adalah emosi yang wajar terjadi pada seseorang. Sama seperti emosi yang lain, yaitu senang, sedih, kecewa, dan lainnya. 

Setiap emosi perlu disalurkan, seperti tertawa ketika senang. Begitu juga dengan marah, perlu disalurkan juga, tentunya dengan cara yang baik, bukan yang merusak. Menyalurkan amarah kepada anak dengan cara yang buruk bisa meninggalkan luka kepada anak. Mungkin lukanya tidak terlihat, tetapi tersimpan di alam bawah sadar anak. Berikut akibat negatif jika anak sering dimarahi dan dibentak:

1. Anak akan menirunya

Anak adalah peniru ulung. Ketika mendengar Khanza berbicara, kadang aku terkejut karena ada cara bicaraku di situ. Suamiku pun bilang bahwa kemampuannya beralasan dan berargumen (ngeyel) mirip denganku. Karena itu, harus membiasakan diri untuk berbicara dengan baik dong, agar anak mendapat contoh yang baik.

Jika orang tua sering marah-marah dan membentak, maka kemungkinan anak juga menirunya. "Oh, begitu ya kalau marah. Berteriak, membentak, atau melempar barang." Bisa saja anak menyimpulkan seperti itu. Anak juga mempunyai emosi yang perlu disalurkan. Bagaimana anak menyalurkan perasaan dan emosinya dipengaruhi oleh lingkungan yang membesarkannya.

"Dia sering dimarahi, tapi jadi penurut kok. Nggak pernah marah-marah di rumah." Kalaupun tidak ditunjukkan di rumah, bisa saja anak menjadi pemarah kepada orang lain. Mungkin di rumah anak takut kepada orang tuanya, sehingga ia melampiaskannya kepada yang lain. Di beberapa film atau drama Korea banyak kisah seseorang jadi tukang bully karena di rumah sering mendapat kekerasan atau bentakan dari orang tuanya.

2. Anak kehilangan rasa percaya diri, minder, dan tertutup

Sering dimarahi bisa membuat anak merasa tidak disayang dan tidak dihargai. Selain itu, anak juga akan takut untuk mencoba hal baru karena takut salah dan dimarahi. Padahal, masa anak-anak adalah masa mereka mengeksplore banyak hal. Lalu, jika anak takut melakukan sesuatu karena takut dimarahi, bagaimana mereka bisa belajar hal baru?

Namun, jika rasa penasaran sudah meluap, bisa jadi ia melakukan sesuatu dengan diam-diam. "Jangan sampai ketahuan ayah dan ibu, nanti dimarahi." Misalnya nonton suatu video di youTube sambil ngumpet agar tidak ketahuan orang tua. Jika anak masih kecil, orang tua masih bisa mengawasinya karena sehari-hari di rumah. Namun, jika anak sudah besar, orang tua tidak bisa selalu mengawasi. Gawat kan jika anak melakukan atau mengalami sesuatu yang buruk, tetapi orang tua tidak tahu karena anak tidak terbuka.


3. Mengganggu perkembangan otak

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa teriakan dan bentakan dapat merusak sel-sel otak anak. Padahal, anak punya periode emas untuk perkembangan otaknya. Semestinya anak mendapat stimulus untuk membantu perkembangan otaknya dengan nutrisi yang cukup, berbagai kegiatan, serta kasih sayang yang berlimpah.

Sering membentak dan memarahi anak bisa meninggalkan trauma dan luka batin pada anak. Perlakuan semasa kecil akan berpengaruh pada perilakunya saat dewasa kelak. Jika anak menyimpan inner child yang buruk, maka ketika dewasa bisa tercermin pada sikapnya.


Belajar Mengelola Emosi Sebagai Orang Tua

Aku mengajarkan anakku mengelola emosi dengan membacakan buku, juga dengan memvalidasi emosinya. Aku memberi tahunya apa yang bisa dilakukan ketika marah, "Kalau Khanza lagi marah, bilang sama umi. Ngga boleh berantakin barang, ngerusak, sama lempar-lempar ya." Aku juga bertanya maunya diapain kalau lagi marah. "Dipeluk," begitu pintanya. Jadi, tiap ia marah, aku akan memeluknya. 

Itu jika aku sedang waras. Kalau emosiku sendiri sedang mendidih dan butuh diluapkan, tak jarang aku ikut marah dan ngomel ketika anak marah-marah atau bertingkah. Oleh karena itu, belajar mengelola emosi adalah salah satu proyekku sekarang, sebuah PR besar demi membangun "a home team". Bagaimana caranya agar tidak ngomel dan marah-marah?

1. Kenali dan antisipasi penyulut amarah

Apa yang membuatmu sering marah-marah? Jika ditelusuri, biasanya aku ngomel-ngomel ketika rumah berantakan, anak main terlalu lama, dan karena siklus hormonal. Jadi, aku perlu mengantisipasi penyebab amarah tersebut agar tidak tersulut dan meledak.

Untuk urusan merapikan rumah, aku libatkan suami dan anak. Anak membereskan mainan dan buku-bukunya agar tidak berserakan. Suami aku berdayakan untuk membereskan kamar, termasuk mengganti sprei. Walaupun tidak selalu siap-siaga ketika aku minta bantuan, setidaknya mereka mau turun tangan. Sepertinya sejak menikah dan punya anak standar kerapianku menurun drastis, daripada stres.

Yang lebih sering membuatku ngomel adalah ketika anak bermain dengan teman-temannya. Kadang, ia main sampai lupa waktu atau merengek jika disuruh pulang. Kadang, anak-anak itu tidak membereskan mainan yang dipinjam. 

Untuk hal ini, aku mendiskusikan peraturan anak jika mau main dengan teman. Kapan ia boleh main, berapa lama, dan tentu saja harus membereskan mainan setelah selesai bersama dengan temannya. Jika anak melanggar, ada konsekuensinya, yang juga hasil diskusi dengan anak. Dengan peraturan yang jelas, anak jadi lebih disiplin dan frekuensiku mengomel jauh menurun.


2. Belajar anger management

Demi bisa mengelola emosi, aku ikut webinar dan workshop online anger management bersama Dandiah Care Center. Di sana kami diajarkan apa yang bisa dilakukan ketika sedang marah. Salah satunya dengan butterfly hug. Jika sedang marah, aku tidak perlu mengatakannya kepada anak dan suami karena raut mukaku sudah menunjukkannya dengan jelas.

"Aku takut kalau mukamu udah begitu," begitulah ungkapan hati suamiku wkwk. Kalau suami saja takut, gimana dengan anak? Hadeeeuh. Kadang, anakku bertanya, "Umi marah?" Mungkin ia melihat dari ekspresiku. "Iya, umi marah. Jadi umi mau diem dulu ya," begitu jawabku agar tidak ngomel-ngomel. Ketika sudah normal, anak akan bertanya lagi, "Umi udah nggak marah?"

Aku juga belajar untuk menanggapi sesuatu dengan responsif, bukan reaktif. Daripada ngomel sepanjang kereta api atau marah-marah, aku merasa lebih baik begitu, diam sampai amarah mereda.

3. Minta kerja sama suami

Kadang suami juga marah ketika anak bertingkah tidak menyenangkan. Kami sadar bahwa ada yang pelru diubah dari cara kami meluapkan marah. Kami tidak ingin meninggalkan luka batin dan inner child yang tidak menyenangkan untuk Khanza.

Karena itu, aku mengajaknya untuk saling mengingatkan. "Saling ngingetin ya. Kalau aku mulai marah-marah ingetin," begitu ucapku. "Aku tuh takut lho mau ngomong kalau mukamu udah ga enak gitu." Yah, mungkin saatnya aku berkaca sambil melihat bagaimana ekspresiku ketika marah. Apakah semenakutkan itu?

Ketika anak lahir,  tidak otomatis orang tua punya keahlian untuk mendidik dengan benar. Karena itu, sebagai ibu dan ayah, kita perlu untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Salah satunya adalah belajar mengelola emosi sebagai orang tua. Semoga kita, para orang tua, bisa menjadi  ayah dan ibu yang baik bagi anak.


Post a Comment

2 Comments

  1. Sangat bermanfaat informasinya,
    Mental anak juga kasihan kalo terus"an atau sering di bentak apa lagi sampe tangannya maju hehe
    Sebagai orang tua wajib banget paham akan hal itu supaya tidak selalu emosi menjadi jawaban terakhir tapi cobalah dengan cara lain yang lebih bagus dan tidak berefek jelek

    ReplyDelete
  2. Info yg sangat bermanfaat..
    iya.. terkadang sbagai orang tua, aku sering ketelepasan ngomel dan marah sama anak2, nice for sharing and reminder. Salam kenal mba

    ReplyDelete