Stigma dan Mitos Ibu yang Melahirkan Secara Sesar, Apakah Gagal Jadi Ibu yang Sempurna?

mitos operasi sesar



Setiap ibu hamil pasti berharap bisa melahirkan secara normal. Namun terkadang kenyataan tidak sesuai dengan keinginan. Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kehamilan agar bisa melahirkan secara normal, tetapi waktu melahirkan tiba-tiba ada penyulit yang mengharuskan untuk operasi sesar. Itulah yang aku alami dulu dan sepertinya banyak juga ibu di luar sana yang mengalaminya. 

Ketika tahu aku melahirkan secara sesar banyak yang bertanya, "Loh kenapa kok tiba-tiba sesar?" Wajar sih, soalnya memang selama hamil aku baik-baik saja. Namun, menjelang HPL aku mengalami ketuban pecah dini. Setelah ditunggu lebih dari 12 jam, tidak juga ada pembukaan, sedangkan kondisi ketubannya sudah sedikit dan rentan terjadi infeksi jika tidak segera dilahirkan. Karena itu aku manut saja ketika dokter obgyn bilang harus sesar saat itu juga.

Melahirkan secara normal atau sesar adalah pertanyaan yang banyak ditanyakan orang-orang. Cung, siapa yang mendapat pertanyaan itu? Metode melahirkan memang masih menjadi concern. Melahirkan secara normal adalah dambaan kebanyakan perempuan. Tak heran muncul stigma dan pandangan negatif kepada ibu yang melahirkan secara sesar, dianggap gagal menjadi ibu yang sempurna. 

Dulu aku pernah membaca tulisan di Facebook yang menyebutkan bahwa melahirkan secara sesar  disebabkan oleh gangguan jin. Tak hanya itu, bahkan sempat beredar video dari seorang "ustadz" yang bilang bahwa melahirkan secara sesar berarti terkena anarkisme setan.

Bagaimana perasaanku setelah membaca itu? Tentu saja aku sangat sedih dan marah, karena aku baru melahirkan secara sesar juga. Anehnya banyak yang percaya, bahkan banyak sekali yang membagikan tulisan dan video tersebut.

Entah kenapa di mata masyarakat kita metode melahirkan masih menjadi patokan kesuksesan seorang ibu. Seorang ibu yang bisa melahirkan normal dianggap lebih beruntung. Sedangkan seorang ibu yang melahirkan secara sesar dianggap kurang berhasil. Bahkan ada anggapan bahwa seorang ibu yang melahirkan sesar berarti belum menjadi Ibu yang sempurna. Hal itu menyebabkan adanya stigma terhadap ibu yang melahirkan secara sesar.

Padahal bukankah kita seharusnya bersyukur dengan ditemukannya metode sesar itu? Dengan begitu ibu hamil yang berisiko untuk melahirkan normal bisa ditolong, sehingga mengurangi angka kematian ibu dan bayi. 

Melahirkan secara spontan ataupun operasi sesar hanyalah metode persalinan, yang penting adalah keselamatan ibu dan bayi.

Adanya pandangan negatif terhadap melahirkan sesar bisa menyebabkan seorang ibu yang sedang hamil memaksakan untuk melahirkan normal. Jika kondisi tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, tetapi memaksakan untuk melahirkan normal justru bisa membahayakan nyawa ibu dan bayinya. 

Sudah saatnya kita mendukung setiap ibu yang melahirkan apapun metodenya. Bukankah yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayinya? Nah, oleh karena itu kita perlu tahu apa saja indikasi dan fakta tentang operasi sesar agar tidak termakan dengan mitos-mitos yang beredar.

Indikasi operasi sesar

Ada beberapa kondisi yang tidak memungkinkan ibu hamil untuk bisa melahirkan secara normal, baik dari faktor ibu atau janinnya. Berikut beberapa indikasi untuk melahirkan secara sesar:

1. Ibu mengalami tekanan darah tinggi atau preeklampsia.
2. Persalinan normal tidak maju, misalnya pembukaan tidak bertambah walaupun sudah diinduksi.
3. Posisi plasenta terlalu bawah sehingga menutupi jalan lahir (placenta previa).
4. Panggul sempit.
5. Posisi janin yang tidak normal.
6. Ibu mengalami perdarahan yang berlebihan.
7. Terjadi gawat janin (janin tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup).

Pada beberapa kondisi di atas jika dipaksakan untuk melahirkan secara normal akan sangat berisiko membahayakan ibu dan janin. Tentu saja penilaiannya harus dilakukan oleh dokter ahlinya, apakah kondisi kehamilan ibu baik-baik saja untuk bisa melahirkan secara normal, atau harus dilakukan operasi sesar.

Beberapa mitos tentang melahirkan secara sesar

1. Ibu yang melahirkan sesar berarti belum sempurna menjadi ibu. 

Apakah keberhasilan seorang ibu hanya diukur dari metode melahirkannya? Ibu yang melahirkan secara sesar dianggap belum sempurna menjadi ibu karena belum merasakan sakitnya kontraksi saat melahirkan normal. Padahal melahirkan secara sesar pun juga menyakitkan lho, bukan berarti jika melahirkan secara sesar ibu tidak sakit sama sekali. 

Baik ibu yang melahirkan secara normal ataupun secara sesar, mereka sama-sama berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat. Jadi tidak sepatutnya untuk dibandingkan, apalagi menganggap ibu yang melahirkan secara sesar itu adalah ibu yang tidak sempurna.


2. Sekali operasi sesar berarti seterusnya akan sesar

Ibu yang mempunyai riwayat operasi sesar belum tentu persalinan berikutnya harus sesar juga. Sekarang sudah banyak kok yang melahirkan secara normal dengan riwayat sesar sebelumnya atau dikenal dengan VBAC. 

Namun, tentu saja tidak semua bisa begitu. Sebelum memutuskan untuk VBAC banyak pemeriksaan yang harus dilakukan. Jadi konsultasikan dulu dengan dokter spesialis obgyn sebelum memutuskan untuk VBAC ya,Bun. 


3. Ibu tidak merasakan sakit

"Oh nggak mau ngerasain sakit ya makanya pilih operasi sesar?" Adakah orang yang bertanya seperti itu? Sepertinya ada saja sih ya.

Helloooow, melahirkan secara sesar bukan berarti tidak merasakan sakit Ya waktu operasinya sih memang enggak sakit, kan dibius. Setelah biusnya itu menghilang, aduh rasanya cenut-cenut bekas jahitannya.

Belum lagi yang sebelumnya sudah sempat merasakan kontraksi tapi bayinya gagal keluar lewat vagina, sehingga harus operasi sesar secara emergensi. Duh, sakitnya dobel. Aku ngerasain sendiri. Jadi yang bilang bahwa operasi sesar itu berarti nggak ngerasain sakit sini deh aku tampol.


4. Tidak bisa skin to skin contact

Mitos lain tentang operasi sesar adalah ibu tidak bisa melakukan inisiasi menyusui dini ataupun skin to skin contact dengan bayinya. Padahal, nggak begitu kok, kita tetap bisa melakukan inisiasi menyusui dini setelah operasi sesar. Aku pun begitu, setelah selesai operasi, bayiku langsung dibawa ke ruang pemulihan bersamaku untuk inisiasi menyusui dini. Jadi nggak usah khawatir ya. 


Beberapa di atas hanya sedikit mitos tentang operasi sesar. Sepertinya masih banyak lagi mitos yang beredar di masyarakat. Jangan langsung percaya ya, periksa dulu kebenaran suatu informasi agar tidak tertipu dengan hoax.


Akibat negatif stigma terhadap ibu yang melahirkan secara sesar


Pandangan negatif ataupun stigma terhadap ibu yang melahirkan sesar bisa menimbulkan dampak negatif lho. Dianggap gagal dan tidak sempurna karena melahirkan secara sesar bisa menurunkan rasa percaya diri seorang ibu. Hal itu bisa membuat ibu menjadi stres dan berdampak pada psikologinya. Baby blues dan depresi post partum pun mengancam.

Baby blues adalah suatu kondisi psikologis pada ibu yang baru melahirkan. Ibu bisa tiba-tiba menangis tanpa sebab dan merasa tidak bisa merawat anaknya dengan baik. Jika gejala ini berlanjut lebih dari 2 minggu bisa terjadi depresi postpartum.

Depresi postpartum ini lebih gawat dari Baby blues. Pada beberapa kasus, bahkan muncul keinginan untuk membunuh bayinya. Jika sampai terjadi depresi postpartum ini maka harus ditangani oleh psikolog atau psikiater. 

Wah, dampaknya bukan main kan. Oleh karena itu, yuk kita hilangkan pandangan negatif dan stigma terhadap ibu yang melahirkan secara sesar. Operasi sesar tidak mengurangi perjuangan seorang ibu untuk melahirkan bayinya. 

Melahirkan dengan operasi sesar juga tidak membuat seorang perempuan gagal menjadi ibu yang sempurna. Bagaimana pun, seorang ibu pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Tidak sepantasnya kita menghakimi seorang ibu hanya karena melahirkan secara sesar. Yuk kita hentikan mom shaming agar kehidupan para ibu lebih damai dan sejahtera. 



Post a Comment

0 Comments