Penyebab dan Tips Mengatasi Krisis Identitas Seorang Ibu

krisis identitas ibu

"Sudah lama aku tidak mendengar seseorang memanggilku dengan namaku. Setelah menjadi ibu panggilanku pun ikut berubah. Orang-orang memanggilku dengan sebutan ibu dari anakku, (misalnya ibu Khanza, begitu). Kalimat tersebut merupakan cuplikan sebuah drama Korea yang pernah aku tonton. Aku lupa drakor yang mana. Tokoh tersebut merasa identitasnya telah berubah setelah menjadi ibu.

Setelah mempunyai seorang anak, identitas seorang wanita memang bertambah, yaitu seorang ibu. Perubahan identitas yang diikuti dengan peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Banyaknya tanggung jawab yang diemban sering kali membuat seorang ibu merasa kehilangan jati dirinya. Dia seperti melupakan semua tentang dirinya, melupakan keinginan pribadinya, tidak sempat melakukan hobinya, tidak sempat merawat diri sendiri, bahkan merelakan mimpi-mimpi dan cita-citanya demi anaknya.

Pengorbanan dan peran ibu yang segunung itu justru sering diglorifikasi dalam masyarakat kita. Mungkin hal itu karena jarang ada seorang ibu yang menampakkan kesedihannya. Lihat saja di media sosial, instagram contohnya, kebanyakan ibu hanya menampilkan foto bayi-bayi yang lucu dan hal-hal menyenangkan bersama anak-anak. Jarang yang menampakkan stresnya ketika anak tantrum, bagaimana kucelnya badan ketika enggak sempat mandi, bagaimana lelahnya begadang, bagaimana stresnya ketika anak GTM dan lainnya.

Di balik foto-foto instagramable yang terlihat sangat bahagia di media sosial, ada jungkir baliknya seorang ibu yang tidak kita lihat. Media sosial hanya secuil kecil hidup yang ditampakkan. Kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan seorang ibu di balik layar. Oleh karena itu, persiapkan diri betul-betul jika ingin menjadi ibu. Jangan hanya sekadar ingin karena melihat lucunya bayi-bayi di media sosial.

Bukan berarti peran dan identitas sebagai ibu itu tidak membahagiakan, justru ada kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan ketika menjadi ibu. Namun, kebahagiaan tersebut tidak gratis dan instan, ada perjuangan dan pengorbanan yang perlu dilalui. Tanggung jawab menjadi ibu menyita hampir seluruh waktu seorang wanita. Tak jarang hal tersebut membuat seorang ibu rentan mengalami krisis identitas. 

Penyebab terjadinya krisis identitas pada seorang ibu

Aku mencari definisi tentang identitas diri atau juga sering disebut jati diri, tetapi tidak ada yang menjelaskan dengan jelas. Dari beberapa artikel yang aku baca, aku menyimpulkan identitas diri atau jati diri adalah tentang tujuan hidup, makna hidup dan peran hidup. Jadi, krisis identitas berarti tidak jelasnya tujuan hidup dan apa peran dalam hidup. 

Seorang ibu dituntut untuk bisa memainkan beberapa peran. Ia harus bisa membagi waktu untuk keluarga juga dalam pekerjaan untuk ibu bekerja. Kesibukannya tersebut sering membuat seorang ibu "lupa" dengan dirinya sendiri. Karena itulah, seorang ibu bisa mengalami krisis identitas. Ada beberapa penyebab seorang ibu kehilangan jati dirinya.

jati diri ibu
foto: IG milarosinta



1. Tidak sempat melakukan kegiatan yang disukai

Coba kita telusuri kegiatan seorang ibu dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bangun tidur menyiapkan sarapan untuk keluarga, nyuapin anak, beres-beres rumah, ngurus anak lagi karena anak masih kecil, enggak bisa ditinggal. Perlu diketahui bahwa dalam frase "mengurus anak" itu banyak turunannya, enggak cuma nyusuin dan ngelonin. Kecuali jika kamu adalah Nia Ramadhani, maka hal tersebut tidak berlaku.

Belum lagi jika seorang ibu juga bekerja di luar. Sebelum berangkat kerja masih harus mengurus keperluan anak dan pulang kerja pun belum tentu bisa rebahan. Baik ibu rumah tangga, maupun ibu bekerja mempunyai tantangannya masing-masing.

Kesibukannya tersebut sering membuat ibu tidak sempat melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Jangankan melakukan hobi, mandi dan makan saja harus secepat kilat, begitu enggak ibu-ibu? Namun, hal ini tidak baik, lho. Walaupun sudah menjadi ibu, bukan berarti tidak boleh melakukan hobi dan hal yang disukai.

Menjadi ibu bukan berarti setiap detik dalam waktu ibu hanya untuk urusan anak. Tidak! Justru ibu harus meluangkan waktu untuk mengurus diri sendiri agar energi yang sudah terkuras kembali terisi dan siap menjalani peran dengan bahagia.

2. Membandingkan diri dengan orang lain

Setelah menjadi ibu, sepertinya lebih banyak hal untuk dibandingkan, dari urusan anak, rumah tangga sampai urusan diri sendiri.

"Anak itu kok montok sih."
"Anaknya udah bisa jalan, padahal dia lebih kecil dari anakku."
"Keluarganya keliatan bahagia banget, sih."
"Wah, si anu udah kerja di sana."
"Wow, si itu baru naik jabatan, tapi aku masih gini-gini aja, berdaster dan kucel."

Membandingkan diri dengan orang lain adalah awal ketidak-bahagiaan. Membandingkan  diri dengan orang lain bisa menimbulkan perasaan rendah diri, meragukan diri sendiri, bahkan menyalahkan diri sendiri. Jika ibu merasa anak orang lain lebih hijau, eh, anak orang lain lebih sehat, lebih lincah, dan lebih segalanya, berarti saatnya ibu membuka buku tumbuh kembang anak. Bandingkan tumbuh kembang anak dengan grafik pertumbuhan dan milestone perkembangan anak. Jika ada yang tidak sesuai, periksakan ke dokter.

Selain tentang anak, persoalan diri sendiri adalah hal yang sering membuat ibu galau. Teman-teman seangkatan sudah meroket ke jenjang karir yang tinggi, tapi diri sendiri masih seperti upik abu.  Apalagi jika ada yang berkomentar, "Sayang banget udah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi ibu rumah tangga." Pasti rasanya ingin menyumpal mulut si komentator tersebut, bukan? Kemudian ibu menjadi sedih, insecure, dan tidak menjiwai peran sebagai ibu. Hingga akhirnya mempertanyakan masa depan yang terlihat suram.

3. Perubahan identitas

Krisis identitas sering terjadi pada ibu yang baru mempunyai anak. Bertambahnya peran dan tanggung jawab bisa membuat ibu bingung dengan perannya sebagai istri, ibu, dan diri sendiri. setelah Menjadi ibu maka prioritas juga akan berubah. Sebelumnya ibu sudah merencanakan untuk berkarir atau melanjutkan pendidikan dan beberapa hal lainnya, tetapi ketika si kecil lahir maka perasaan tidak tega untuk meninggalkannya. Itu bisa menjadi sebuah dilema dan menyebabkan ibu mengalami krisis identitas, mana yang harus diprioritaskan atau haruskah ada yang dikorbankan.

4. Perasaan bersalah karena tidak bisa menjadi Ibu yang baik

Kita semua tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna termasuk seorang ibu. Ibu rumah tangga yang sehari-hari sudah 24 jam bersama anaknya tetap saja bisa merasa bersalah dan tidak menjadi ibu yang baik. Begitu juga dengan ibu yang bekerja di luar, sering merasa bersalah karena meninggalkan anaknya. 

Masih banyak lagi faktor yang membuat ibu tidak yakin dengan dirinya sendiri sehingga mengalami krisis identitas. 

Mengatasi krisis identitas pada seorang ibu

Krisis identitas ini sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut. Jika terus-menerus mengalami kekhawatiran dan kecemasan maka ibu bisa stres. Oleh karena itu, ibu harus berusaha untuk mengatasinya. Mungkin beberapa cara ini bisa dicoba. Cara ini adalah yang aku pakai ketika kecemasan tersebut melanda. 

1. Definisikan peran sebagai diri sendiri, ibu dan istri

Walaupun sudah menikah dan mempunyai anak seorang ibu tetap hak atas dirinya sendiri. Oleh karena itu jangan merasa untuk mengorbankan diri demi yang lain. Aku pertama kali melakukan hal ini saat mengikuti matrikulasi Institut Ibu profesional.

Salah satu tugas untuk para peserta matrikulasi adalah mendefinisikan diri masing-masing sebagai diri sendiri, ibu, dan istri. Dengan begitu maka seorang wanita yang sudah menjadi ibu tetap bisa menjadi dirinya sendiri.

2. Terima Perubahan dan Cintai Diri Sendiri

Ketika menjadi ibu, niscaya terjadi banyak perubahan dalam diri, mulai dari perubahan fisik, mental, hingga tugas dan tanggung jawab. Wajar jika ibu yang baru punya anak masih canggung dengan peran barunya. Namun, ibu tidak bisa menolak perubahan tersebut. Jadi, alih-alih mengelak dan menghindar, lebih baik mencoba untuk merangkul dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Berusaha untuk mencintai diri sendiri bukanlah hal yang egois, karena self love adalah bentuk penerimaan terhadap kondisi diri. Bukan berarti pasrah apa adanya, tetapi tetap berusaha memperbaiki yang bisa diubah.

Dulu, awal menjadi ibu, aku sempat meragukan diri sendiri. Apakah hidupku akan "begini saja?" Lalu, aku mencoba bergabung dengan komunitas para ibu. Sejak saat itu rasa percaya diri mulai tumbuh dan mulai mencoba menikmati setiap peran.

3. Luangkan waktu untuk diri sendiri

Setelah mendefinisikan peran dan merenungkan apa yang harus diperbaiki, maka sediakan waktu untuk diri sendiri. Ibu bisa mengatur rencana-rencana ibu ke depan atau melakukan hobi ibu. Ketika membuat rencana masa depan, jangan terlalu saklek, cobalah untuk lebih fleksibel, karena jika tidak terealisasi justru bisa bikin stres lagi.

Jika ibu sudah cukup kewalahan mengurus rumah dan anak sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk diri sendiri, maka tidak ada salahnya untuk meminta bantuan suami atau keluarga. Walaupun hanya 15 menit 30 menit atau 1 jam tidak apa, yang penting Ibu punya waktu untuk diri sendiri.


4. Niatkan segalanya untuk ibadah

Semua amalan tergantung niatnya, begitu dalam hadits di agamaku. Sayang sekali jika semua kesibukan dan lelahnya sebagai ibu hanya berlalu begitu saja. Jika semua diniatkan untuk ibadah, insya Allah ibu akan merasa lebih ikhlas dan bahagia. Jadikan lelah ibu lillah.

Walaupun ibu bukan siapa-siapa bagi seluruh dunia, tetapi ibu sangat berarti bagi anak. Tidak perlu seluruh dunia untuk menjadi bermanfaat, hanya dengan satu orang pun, anak kita, ibu bisa menjadi beramanfaat. Kalaupun ibu jadi merasa tidak istimewa, tak apa. Tak masalah jadi orang biasa.


Itu beberapa tips dariku yang pernah mengalami krisis identitas waktu awal jadi ibu. Jika ada yang mau menambahkan boleh tulis di kolom komentar  ya. Terima kasih.
















Post a Comment

4 Comments

  1. aku banget sekarang mba hhuhu ternyata aku gak sendirian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba ngga sendirian, semangat ya.. Semoga segala urusannya dimudahkan..

      Delete
  2. Ternyata aku mengalami ini. semenjak punya anak dan aku terpaksa resign kerja aku lebih sering menyalahkan diriku. Emosiku jadi tak terkendali. tiba2 nangis. Dan merasa ngga punya masa depan lagi. Aku merasa hidupku udah hancur bahkan matipun ngga masalah. Aku udah sampai pada pikiran sprti itu.

    ReplyDelete