Perjuangan Hamil dan Menyusui Saat Pengobatan TBC Kelenjar

Hamil dan menyusui ketika TBC


Setiap ibu hamil mempunyai perjuangan yang berbeda-beda, ada yang penuh tantangan, ada pula yang menjalani kehamilannya dengan sangat mudah. Ada yang mengalami morning sickness, ada juga yang tidak. Ada yang ngidam berbagai hal-hal aneh, ada pula yang santai saja. Ada yang mengalami masalah kulit seperti jerawat dan gatal-gatal, ada yang justru mendapat anugerah berupa "pregnancy glow". Ada yang selama hamil tidak mengalami gejala yang cukup mengganggu, tetapi ada yang harus bed rest saat hamil. Tak sepantasnya membanding-bandingkan perjuangan hamil antar ibu, tak seharusnya pula melabeli keluhan ibu hamil dengan "manja".

Dari berbagai keluhan kehamilan, mual dan muntah karena morning sickness adalah keluhan yang sering dialami ibu hamil. Namun, bagaimana jika mual akibat morning sickness tersebut ditambah dengan mual efek minum obat TBC? Rasanya seperti mendapat double jackpot dan aku merasakannya sendiri. Yup, aku hamil ketika harus mengonsumsi obat TBC selama 12 bulan alias 1 tahun. Kok bisa??


Berawal Dari Benjolan di Leher

Semuanya dimulai ketika aku merasakan benjolan di leher kanan. Saat itu, aku masih menjalani pendidikan profesi dokter (koas). Awalnya kupikir benjolan biasa karena flu atau sakit ringan semacamnya, jadi aku biarkan saja dan tak ambil pusing. Sempat terpikir penyakit yang macam-macam, termasuk TBC. Selama koas aku memang sering kontak dengan pasien TBC. Walaupun sudah memakai masker, tetapi kemungkinan tertular masih tetap ada. Namun, aku justru denial, menolak segala pikiran yang terlintas tanpa periksa terlebih dahulu. 

Bukannya hilang, benjolan tersebut justru makin membesar. Padahal, beberapa minggu lagi aku akan menikah dan ujian kompetensi untuk menjadi dokter. Puncaknya, beberapa minggu setelah menikah benjolan tersebut makin besar, bahkan mengeluarkan nanah. Kala itu, suamiku sudah berangkat ke pulau seberang untuk bekerja, kami terpaksa berpisah jarak sejenak, sampai aku selesai ujian kompetensi dokter.

Aku pun bergegas menemui dokter spesialis penyakit dalam di RS tempatku koas. Dokter tersebut menyarankanku untuk melakukan pembedahan. Oleh karena itu, aku beralih ke dokter bedah untuk konsultasi dan disarankan untuk biopsi.

Biopsi Kelenjar Getah Bening Ketika Hamil

Biopsi adalah suatu tindakan medis untuk memeriksa sampel jaringan tubuh dengan menggunakan mikroskop. Ada beberapa macam biopsi, ada yang perlu bius total dan ada yang hanya dengan bius lokal. Pada kasusku, karena benjolannya akan diangkat, aku harus dibius total. Kemudian sampelnya diperiksa oleh dokter spesialis patologi anatomi untuk mengetahui diagnosis pastinya.

Ketika teman-teman seangkatanku fokus belajar dan bimbingan untuk ujian, aku "kabur" ke ruang operasi untuk menjalani biopsi. Biasanya aku masuk ke ruang operasi untuk "menyaksikan" prosedur operasi, kini aku yang terbaring sebagai pasien. Baru kali itu juga aku dibuat tidur oleh obat bius.

Sebelum menjalani biopsi, ada beberapa persiapan yang perlu aku lakukan, yaitu rontgen dada dan pemeriksaan darah. Dengan rontgen dada kondisi paru-paruku bisa terlihat. Apalagi ada kecurigaan TBC yang sering menyerang paru-paru. Saat itu, alhamdulillah paru-paruku dalam keadaan normal, tidak ada bercak yang menunjukkan TBC paru.

Selain pemeriksaan yang dianjurkan tersebut, aku juga melakukan test pack. Jadwal menstruasi sudah terlewat, tetapi tamuku tak kunjung datang. Ada kekhawatiran yang menghantui, bagaimana jika ternyata aku hamil? Apakah aman melakukan operasi biopsi ketika hamil? Saat itu hasil test pack-ku negatif, jadi aku menjalani operasi tanpa khawatir lagi.

Setelah operasi biopsi, aku cemas lagi. Selain karena menunggu hasil biopsi juga karena aku belum juga menstruasi. Test pack kedua menunjukkan satu garis jelas dan satu garis samar. Beberapa hari setelahnya, ada dua garis di alat test pack-ku. Aku positif hamil, juga positif TBC kelenjar dari hasil biopsi. Kabar baik dan kabar buruk dalam waktu yang berdekatan.

Efek Operasi Terhadap Kehamilan

Hal pertama yang kupikirkan setelah tahu bahwa aku hamil adalah tentang efek obat bius terhadap janin. Apalagi aku dibius total. Oleh karena itu, aku konsultasi kepada dokter anestesi yang menanganiku.

Dokter anestesi yang membiusku menjelaskan bahwa prosedur pembiusanku tidak membahayakan janin. Ah, lega sekali mendengarnya. Dikutip dari situs alodokter, ada beberapa pertimbangan yang perlu dinilai jika harus menjalani operasi saat hamil, yaitu indikasi operasi, teknik anestesi, lamanya operasi, obat-obatan yang digunakan, risiko, dan usia kehamilan. Semua pertimbangan tersebut harus dinilai oleh dokter ahlinya.

TBC dan Kehamilan

Sebelum membahas lebih lanjut tentang efek pengobatan TBC terhadap kehamilan, kita perlu tahu dulu tentang penyakit TBC.

Apa itu TBC?

TBC atau tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC menular dari percikan ludah penderita TBC saat batuk, bersin, atau berbicara. Bakteri penyebab TBC kemudian akan masuk ke paru-paru. Namun, TBC tidak hanya menyerang paru-paru. Organ tubuh lain juga bisa terkena TBC, misalnya usus, tulang, kelenjar, bahkan otak.

Penderita TBC paru biasanya mengeluhkan gejala yang khas, yaitu batuk berdahak yang berlangsung lama bisa berminggu-minggu bahkan lebih, demam, berat badan turun, dan keluar keringat di malam hari. Sedangkan TBC luar paru memiliki gejala yang berbeda-beda, tergantung organ tubuh yang terinfeksi. Pada TBC kelenjar, biasanya akan terjadi pembesaran kelenjar getah bening.

gejala TBC



Pengobatan TBC

TBC adalah salah satu penyakit yang masa pengobatannya terhitung lama dan harus taat pada jadwal minum obatnya. Jika tidak minum obat secara teratur, bisa berisiko terjadi resistensi dan harus mengulang pengobatan dari awal. Pada TBC paru, waktu pengobatannya adalah 6 bulan. Sedangkan lamanya pengobatan TBC luar paru berbeda-beda, bisa 9 bulan, bahkan  satu tahu seperti pada kasusku.

Ada beberapa macam obat yang perlu diminum, untungnya sudah ada sediaan tablet tunggal dengan kandungan beberapa obat tersebut. Entah bagaimana jadinya jika aku harus minum beberapa tablet obat setiap hari, sedangkan untuk menelan satu tablet saja sudah kepayahan.

Setelah didiagnosis TBC kelenjar, aku mempunyai ritual baru setiap pagi, yaitu minum obat. Masa kehamilanku aku nikmati dengan mengkonsumsi obat TBC. Mual akibat morning sickness ditambah dengan mual efek obat TBC, kombinasi yang sungguh membuatku tidak berdaya setiap pagi. 

Efek TBC dan Pengobatannya Terhadap Kehamilan

Salah satu kekhawatiran menderita TBC saat hamil adalah khawatir bakteri TBC menular ke janin. Oleh karena itu, perlu penanganan yang tepat bagi ibu hamil yang terkena TBC. Dilansir dari alodokter, jika TBC pada ibu hamil tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan beberapa risiko, antara lain:

1. Risiko kelahiran prematur
2. Berat badan bayi lahir rendah
3. Penularan TBC pada janin di dalam kandungan

Sedangkan, jika mengkonsumsi obat TBC saat hamil ada kekhawatiran tentang efek samping obat terhadap janin. Oleh karena itu, aku memastikannya dengan konsultasi kepada ahlinya. Yah, walaupun saat itu aku hampir menjadi dokter dan aku sudah membaca sendiri bahwa obat yang akan aku konsumsi aman untuk kehamilan, aku masih tidak yakin. Ternyata rasanya berbeda jika diri sendiri yang menjadi pasien. Tetap saja ada rasa ragu padahal aku sudah membaca literatur. Sepertinya, saat itu aku hanya butuh dikuatkan.

Di The Asian Parent juga terdapat artikel  tentang TBC saat hamil dan menyusui. Artikel tersebut menjelaskan bahwa pengobatan TBC tidak membahayakan janin. Justru jika tidak diobati bakterinya akan tambah banyak dan bisa berbahaya bagi ibu dan janin.

Aku pun menjalani 9 bulan kehamilan dengan ditemani tablet besar berwarna merah dan kuning setiap pagi. Dukungan suami, keluarga, serta tendangan-tendangan si kecil dari dalam perutlah yang menguatkanku untuk tidak menyerah.

Terpaksa Melahirkan Secara Sesar

Tengah malam di malam terakhir Bulan Ramadan tahun 2015, aku merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluan. Awalnya aku bingung, ini air kencing atau air ketuban? Padahal jalan keluarnya jelas berbeda, tetapi aku tetap saja bingung. Ternyata menjadi tenaga kesehatan tidak bisa membantu diriku sendiri saat itu. Untung ada ibuku, jadi aku bisa bertanya. Orang tuaku sengaja datang jauh-jauh demi menemaniku melahirkan.

Kami segera pergi ke klinik tempatku biasa kontrol kehamilan setelah curiga bahwa ketubanku sudah pecah. Setelah diperiksa pembukaannya, ternyata baru buka satu. Namun, cairan ketuban terus merembes. Bahkan keluar lebih banyak jika aku bergerak. Jadi, malam itu aku rawat inap di klinik untuk diobservasi.

Lama-lama aku merasa mulas. Apakah ini yang namanya kontraksi? Walaupun saat koas aku beberapa kali ikut menolong ibu melahirkan, tetapi aku benar-benar blank ketika mengalami sendiri. I have no clue. Perutku terasa diremas-remas, tetapi rasa sakitnya hilang-timbul, tidak terus-menerus. Keesokan paginya pembukaan jalan lahirku diperiksa lagi, tidak ada pertambahan pembukaannya dong. Padahal rasa mulasku semakin hebat. Jadilah aku dirujuk ke rumah sakit.

"Ini jalan lahirnya terlalu kecil, kepala bayinya udah miring di sini nih," seorang dokter laki-laki menjelaskan kepadaku sambil menekan perut bawah kiriku. "Harus segera dikeluarkan, ketubannya udah dikit, khawatir infeksi juga," begitu lanjutnya. Aku menjawab iya-iya saja sambil meringis kesakitan, karena remasan diperutku rasanya semakin kencang. 


melahirkan sesar
Kondisi setelah melahirkan


16 Juli 2015, aku kembali masuk ke ruang operasi sebagai pasien untuk operasi sectio caesarea alias operasi sesar karena ketuban pecah dini. Jadi, tidak ada hubungannya dengan TBC kelenjar dan pengobatannya yang sedang aku jalani.

Amankah Menyusui Ketika Menjalani Pengobatan TBC?

Satu tugas yang mengikuti seorang ibu setelah melahirkan adalah menyusui. Ternyata menyusui tidak semudah menyodorkan payudara ke mulut bayi. Lagi-lagi, walaupun aku sudah belajar tentang posisi menyusui yang benar saat kuliah, ternyata praktiknya tidak semudah yang dilihat. Bayiku sempat menangis semalaman karena belum berhasil menyusu.

Puting lecet, jahitan operasi yang masih nyeri, dan pengobatan TBC yang belum selesai membuatku sempat mengalami baby blues. Aku sering ingin menangis atau sedih secara tiba-tiba. Padahal, sedih dan stres bisa menurunkan produksi ASI. Namun, perubahan hormon setelah melahirkan dan kondisi fisik membuat suasana hati sangat tidak bersahabat. 

Selain stres, ada hal lain yang perlu dijaga oleh ibu menyusui, salah satunya adalah konsumsi obat-obatan. Ibu menyusui tidak boleh mengkonsumsi sembarang obat karena khawatir akan mempengaruhi ASI atau ikut keluar bersama ASI.

Lalu, bagaimana dengan obat TBC? Apakah aman untuk  ibu menyusui? Jika tidak aman haruskah berhenti minum obat atau berhenti menyusui? Namun, bukankah minum obat TBC tidak boleh putus?

Banyak sekali pertanyaan terkait pengobatan TBC pada ibu menyusui. Beberapa referensi menyebutkan bahwa obat TBC pada ibu menyusui masuk ke ASI dalam konsentrasi yang sangat rendah, sehingga tidak akan menimbulkan efek pada bayi. Oleh karena itu, ibu menyusui tetap harus melanjutkan pengobatan TBCnya.

Aku masih minum obat TBC hingga anakku berusia sekitar 2 bulan. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan pengobatan. Tidak sabar berhenti minum tablet yang besar-besar itu, dan berhenti mual tiap pagi. Rasanya seperti morning sickness yang berlanjut. Untung saja keharusan minum obat tiap hari hanya di dua bulan pertama.

Satu tahun pengobatan TBC aku lalui bersamaan dengan hamil dan menyusui. Bisa dibilang anakku yang selalu menemaniku berjuang melawan bakteri ini. Satu hal yang paling aku syukuri adalah anakku bisa lahir dengan sehat dan selamat tanpa ada kekurangan, walaupun melalui banyak hal ketika masih di dalam rahim.

Yang Perlu Dilakukan Jika Terkena TBC

TBC bukanlah aib, tidak perlu malu jika terkena TBC. Sudah saatnya stigma terhadap penderita TBC dihilangkan. Berikut beberapa hal yang harus dilakukan jika terkena TBC:

1. Ikuti Anjuran Dokter dan Rutin minum obat

Pengobatan TBC harus disiplin, jangan sampai terlewat atau putus obat. Tidak disiplin minum obat atau putus obat berisiko membuat bakteri TBC menjadi resisten terhadap obatnya. Jika hal itu terjadi, maka harus ganti jenis obat. Jika berulang kali tidak disiplin, maka bisa menyebabkan TBC multidrugs resisten (TB MDR). TB MDR beberapa jenis obat TBC tidak mempan melawan bakteri TBC. Perlu pengobatan yang lebih ekstra.

2. Mengkonsumsi Makanan Bergizi dan menerapkan pola hidup sehat

Penderita TBC sering kehilangan nafsu makan sehingga berat badan turun drastis. Walaupun begitu, tetap harus berupaya untuk mengkonsumsi makanan bergizi setiap hari. Dengan gizi seimbang, daya tahan tubuh akan meningkat sehingga bisa membantu proses penyembuhan.

Selain dengan mengkonsumsi maakanan bergizi, juga perlu rutin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hindari merokok karena bisa memperburuk kondisi paru-paru.

3. Memakai masker untuk mencegah penularan

TBC menular melalui percikan ludah. Oleh karena itu, penderita TBC perlu memakai masker agar tidak menularkan kepada orang sekitar. Biasanya TBC sudah tidak menular setelah dua bulan pengobatan. Namun, perlu konsultasi lebih lanjut dengan dokter ya.

4. Berdoa

Jangan lupa iringi usaha dengan doa. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesembuhan.

The Asian Parent Sebagai Teman Orang Tua

Sayang sekali waktu hamil dulu aku belum mengenal The Asian Parent. Sepertinya memang belum banyak situs parenting seperti sekarang. Karena itu, aku lebih banyak mengandalkan buku dan pengetahuan dari kuliah untuk mencari info seputar kehamilan. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak kenal sama sekali. Sekarang aku sering membuka The Asian Parent untuk mencari info seputar parenting.

Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Oleh karena itu, perlu pandai-pandai mencari informasi sendiri. Beruntung sekarang akses informasi sudah sangat mudah karena internet dan ada situs yang sangat membantu para orang tua. Namun, kita perlu pandai memilih situs yang terpercaya, jangan sampai percaya informasi yang tidak jelas sumbernya.

Nah, bagi para orang tua maupun calon orang tua, The Asian Parents bisa menjadi rujukan ketika mencari informasi. Tidak hanya membaca informasi di situsnya, kamu juga bisa mengunduh aplikasinya lho. Berbagai informasi seputar kehamilan, parenting, tumbuh kembang anak, kesehatan, dan nutrisi tersedia dengan lengkap. Tidak hanya itu, The Asian Parent juga mempunyai komunitas bagi para ayah dan bunda. Di situ kita bisa berdiskusi dan menambah koneksi.

Sekarang, walaupun tidak sedang hamil, aku masih sering membaca artikel tentang parenting di The Asian Parents. Setelah punya anak, kita tidak ujug-ujug pandai merawat dan mendidik anak. Oleh karena itu, orang tua juga perlu terus meng-update ilmu.

















Post a Comment

2 Comments