Strategi Mengatur Keuangan Ala Safir Senduk, Anti Bokek di Masa Pandemi

mengatur keuangan di masa pandemi



"Twitter, please do your magic. Jika ada yang butuh jasa driver mobil, boleh pribadi atau kantor bisa hubungi saya. Suami saya nggak ada kerjaan karena corona."

"Twitter, please do your magic. Saya butuh kerjaan banget untuk menyambung hidup. Bisa jadi kurir, cuci baju, bersih-bersih rumah dan lainnya bisa."

"Twitter, please do your magic. Saya mau jual beberapa barang karena butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. Belum dapat kerja lagi gara-gara covid."

Menginjak 7 bulan pandemi covid-19, entah sudah berapa puluh atau ratus kali aku membaca mantra ajaib jagat twitter seperti di atas. Kebanyakan isinya sejenis, mencari pekerjaan atau menjual beberapa barang untuk bertahan hidup.

Pandemi memberikan dampak yang sangat besar dan luas. Tak hanya dunia kesehatan yang terimbas, ekonomi pun secara otomatis ikut lemah, letih, dan lesu. Banyak karyawan yang di PHK karena penghasilan perusahaan anjlok, para pedagang mengalami penurunan omzet, tempat hiburan tutup, driver ojek online kehilangan penumpang, dan aku juga terciprat imbasnya.

Hingga awal pandemi aku masih bekerja di klinik. Semenjak pandemi menyerang, pasien klinik turun drastis sementara kebutuhan banyak bertambah, misalnya untuk APD petugas. Aku pun di rumahkan sementara. Kini klinik mulai bangkit lagi walaupun tidak seperti sebelum pandemi. Namun aku ragu untuk kembali bekerja karena khawatir dengan anakku.

Setidaknya aku masih punya suami yang bisa menopang kebutuhan kami. Tidak terbayang bagaimana orang-orang yang kehilangan tulang punggung, karena terkena covid atau di PHK karena covid. Apalagi jika bukan keturunan sultan, perlu jungkir balik untuk sekadar bertahan.

Di masa seperti ini masih mempunyai penghasilan untuk menyambung hidup sudah merupakan sebuah anugerah. Jadi, sudah sepantasnya untuk lebih wawas diri dalam mengatur keuangan di masa pandemi ini karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan.

Bagaimana Mengatur Keuangan di Masa Pandemi?

Stay at home selama pandemi seharusnya bukan badan saja yang menggendut dong, tapi tabungan juga. Uang transportasi ke kantor, biaya liburan, budget nongkrong bisa dialihkan ke tabungan. Namun kenyataan tidak semudah itu bukan? Dengan dalih agar tidak bosan di rumah lalu beli segala macam barang untuk menemani kegiatan di rumah. Alih-alih menabung yang ada malah buntung.

Beberapa minggu lalu aku menyimak sebuah live di youtube bersama Safir Senduk, sang master perencanaan keuangan. Bahasannya cukup menarik, salah satunya adalah tentang langkah mengatur  keuangan selama pandemi. Menurutnya, ada dua hal utama yang harus dilakukan untuk mengatur keuangan di masa pandemi ini.

1. Pertahankan uang tunai selama mungkin

"Cash is king" begitu kata para ahli keuangan di masa pandemi ini. Untuk mempertahankan uang tunai selama mungkin, berarti perlu mengatur pengeluaran dengan lebih cermat. Salah satunya adalah stop belanja barang-barang jika tidak mendesak.

Dulu jika tiap buka market place bisa impulsif beli ini beli itu, apalagi kalau ada diskon, cashback, atau free ongkir masih bisa dimaafkan. Namun, untuk sekarang di masa yang sedang sulit ini, lebih baik kurang-kurangi belanja yang tidak penting dan tidak mendesak tersebut.

Lebih lanjut, Pak Safir Senduk menjelaskan tentang kesalahan dalam berbelanja yang sering terjadi, yaitu:

Pertama, membandingkan harga barang dengan total gaji. Misal mau beli sepeda, "Ah, bisalah beli ini, cuma setengah gaji doang." Menurut Pak Safir, ketika akan membeli sesuatu, bandingkan harganya dengan penghasilan bersih. Jadi, total gaji dikurangi dulu dengan semua kebutuhan, baru bandingkan dengan harga barang yang mau dibeli.

Misal gaji 10 juta, kurangi dulu dengan kebutuhan beli beras, sayur, lauk, susu anak, popok anak, listrik, pulsa, bensin, rumah, dan semua kebutuhan wajib lainnya termasuk zakat, sedekah. Eh, ternyata sisa 1 juta. Nah, bandingkan harga barang yang ingin dibeli dengan 1 juta itu, bukan dengan 10 juta.

Kedua, membeli barang mengikuti keinginan, bukan kebutuhan. Untuk yang satu ini sepertinya masih menjadi kebiasaan banyak orang termasuk aku sih. Ya gimana, nggak perlu buka market place, setiap buka media sosial pasti ada saja iklan yang lewat.

"Ih ya ampun, lucu banget roknya."
"Ih wow, sepatunya unyu."
"Wah, warna lisptiknya cucok meong."
"Wah, ada snack varian baru, enak nih buat nyemil sambil nonton."
"Kayaknya buku ini isinya bagus deh, beli aja dulu baca kapan-kapan."

Segambreng iklan datang tak diundang ketika lihat insta story teman. Kan jadi kepincut pengen beli. Menurut data yang disampaikan Pak Safir, 75% transaksi pembelian terjadi karena dasar keinginan. Sepertinya aku juga termasuk dalam 75% ini, kamu juga kan? Ngaku deh wkwk. Namun sekarang, aku sudah tobat dan jarang lagi buka shopee. Keranjangku saja sudah kosong melompong.

kebiasaan belanja



Apalagi sekarang teknik marketing sudah semakin maju, menjual dengan hypnosis selling. Tidak lagi to the point menawarkan dagangan, tetapi dengan komunikasi, cerita, atau obrolan yang memberikan sugesti  alam bawah sadar. Berawal dari diajak ngobrol basa-basi eh tiba-tiba tangan membuka dompet untuk menukarkan uang dengan barang. Niat cuma tanya-tanya dulu eeh tahu-tahu jari-jari mulai mengklik tulisan checkout dan langsung transfer. 

Untuk mengatasi hal tersebut, selalu gunakan logika ketika berbelanja. Pertimbangkan apakah barang ini benar-benar dibutuhkan. Kurangi membuka market place, buat daftar belanja agar tidak melenceng ke mana-mana. Catat juga setiap pengeluaran agar bisa mengevaluasi anggaran belanjanya.

2. Pilih jenis investasi yang tepat

Beberapa waktu lalu, media diramaikan dengan berita tentang kasus financial planner yang sedang naik daun. Puluhan klien membuka  suara bahwa mereka mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta karena kesalahan si financial planner dalam mengelola investasi. Duh, aku duit 50 ribu ketlingsut aja kucari ke mana-mana, ini ratusan juta gaes. Sejak saat itu aku jadi paham bahwa financial planner tidak seharusnya mengelola dana klien.

Sebelum berinvestasi, ada baiknya kita cari tahu dulu seluk-beluknya. Agar terhindar dari berbagai jenis investasi bodong. Aku sendiri bukanlah ahli keuangan atau investasi. Setelah menikah baru aku mulai mengenal dan belajar tentang investasi.

jenis investasi



Dari penjelasan Pak Safir, ada dua macam investasi, yaitu pertumbuhan dan pendapatan tetap. Investasi pertumbuhan mempunyai sifat high risk high return, mempunyai potensi untung yang besar tetapi risiko rugi juga tak kalah besar. Contohnya adalah saham jika mengandalkan harga jualnya.

Sedangkan investasi pendapatan tetap, risikonya lebih kecil tetapi potensi keuntungannya juga lebih kecil. Contohnya adalah deposito, obligasi, properti yang disewakan, serta dividen (bagi keuntungan) saham.

Bagaimana menentukan jenis investasinya? Tentu saja perlu melihat profil pribadi masing-masing. Secara garis besar, Pak Safir menjelaskan bahwa jika kondisi ekonomi sedang naik maka bisa pilih investasi pertumbuhan. Sedangkan jika kondisi ekonomi sedang turun, pilih investasi pendapatan tetap.

Nah, di kondisi sekarang, ekonomi sedang lesu. Grafik IHSG pun naik-turun seperti roller coaster. Jadi, mungkin lebih aman untuk pilih investasi pendapatan tetap. Kecuali jika kamu punya uang cadangan yang tidak diperlukan dalam waktu dekat, bolehlah mengambil investasi pertumbuhan. Yang terpenting adalah memahami setiap jenis investasi yang akan kita ambil. Jangan beli kucing dalam karung, mau untung malah buntung.

Itulah dua hal yang perlu dilakukan di masa pandemi menurut Pak Safir Senduk. Strategi setiap orang dalam mengatur keuangan di masa pandemi ini bisa jadi berbeda-beda karena keadaan setiap orang tak sama. Semoga kita selalu menjadi golongan anti bokek dan punya rezeki lebih. Jangan lupa untuk membantu dan berbagi dengan sesama ya.






Post a Comment

0 Comments