Tips Mengatasi Mom Shaming Demi Menjaga Kewarasan Seorang Ibu

menghadapi mom shaming


Tips mengatasi mom shaming sepatutnya masuk sebagai kemampuan dasar yang perlu dimiliki para ibu demi menjaga kewarasan. Zaman sekarang mom shaming semakin mudah dijumpai karena adanya media sosial. Yang paling sering aku lihat adalah para artis atau influencer, banyak sekali yang berkomentar jahat. Bahkan komentarnya tidak hanya tentang fisiknya paska melahirkan, tapi juga tentang pola asuh dan anaknya. 

Pasti ada saja yang bilang "Ya itu kan risiko sebagai public figure yang punya banyak follower." Menurutku tidak juga, jika netizen bisa menahan jari untuk tidak mengetikkan hal buruk dan menahan mulutnya ketika ingin nyinyir  maka mom shaming akan musnah dari muka bumi.

Tidak hanya artis, orang biasa seperti aku saja bisa mengalami mom shaming. Ya karena kita hidup bermasyarakat pastinya sering berinteraksi dengan orang lain. Yang paling aku ingat adalah dulu setelah melahirkan.

Seseorang yang menjengukku berkata," Kok perutnya masih gede?" Aku senyumin saja dia. FYI, perut seorang ibu setelah melahirkan tidak langsung kempes seperti masa gadisnya. Karena itu adalah perut yang punya lapisan otot, lemak, dan kulit yang bisa meregang dan melar kalau ada bayi di dalamnya. Jadi ketika si bayi sudah keluar tidak ujug-ujug langsing lagi, bukan seperti balon yang ditiup jika udaranya keluar langsung kempes.

Aku juga pernah mendengar cerita dari beberapa teman dekatku, banyak yang mendapat kritik tentang cara merawat bayi dan pola asuh. Kebanyakan yang mengkiritk tentang hal itu adalah orang tua zaman dulu yang sekarang sudah menjadi kakek dan nenek. Mungkin karena merasa lebih berpengalaman, jadi jika ada yang tidak sama dengan pola asuhnya dulu langsung dikomentari. Padahal ilmu terus berkembang, bisa saja yang dulu dianggap aman tapi sekarang dilarang karena sudah ada penelitiannya.

Misalnya tentang pemakaian gurita. Dokter anak menyarankan  untuk tidak memakaikan gurita kepada bayi karena bisa mengganggu pernapasannnya. Namun, masih banyak orang tua zaman dulu yang kekeuh agar cucunya dipakaikan gurita biar hangat. Oleh karena itu kita juga perlu menjadi orang tua yang berilmu, agar jika mengalami kasus semacam itu tidak mudah goyah dan bisa menjelaskan.

Apa Itu Mom Shaming?

Mom shaming merupakan tindakan mengkritik atau memberikan komentar negatif yang dapat menjatuhkan harga diri seorang ibu dan bisa membuatnya tertekan. Semacam tindakan bullying kepada para ibu. Kritikan yang diberikan bukan hanya tentang bentuk fisik, tapi juga tentang anak, dan pola asuhnya. 

Masalah fisik yang sering dibully adalah berat badan, stretch mark, jerawat, bahkan kulit wajah yang sedikit lebih kusam pun bisa saja tertangkap oleh mata netizen. Misalnya seseorang mengomentari wajah seorang ibu hamil, "Wajahmu kok tambah kusam sama jerawatan ya, mungkin anakmu cowok." Dulu aku pernah mendengar komentar semacam itu, tapi bukan aku yang mengalaminya. Padahal kusam tidaknya wajah tidak berhubungan dengan jenis kelamin bayi. Bisa saja kulit jadi mudah berjerawat dan lebih kusam karena perubahan hormonal ibu hamil.

Pelaku mom shaming bukan hanya orang random yang komentar di media sosial, bahkan banyak juga orang terdekat yang melakukan mom shaming. Misalnya teman, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Miris ya jika keluarga sendiri nyinyir dengan hidup kita.

Tips Menghadapi Mom Shaming

Menghadapi mom shaming tentunya menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika tidak punya support system. Stres hingga depresi bisa menjadi efek negatif dari mom shaming. Pada ibu-ibu paska melahirkan bisa mengalami baby blues dan post partum depression (depresi paska melahirkan). Oleh karena itu perlu menghadapi mom shaming dengan bijak agar tidak merasa tertekan. Beberapa tips di bawah bisa dicoba jika mengalami mom shaming.


Abaikan dan jangan terlalu didengarkan 

Kita tidak bisa mengontrol pikiran dan ucapan orang lain. Namun, kita bisa mengontrol mana yang perlu didengarkan mana yang tidak. Jika mengalami mom shaming di media sosial tidak perlu dibalas kalau perlu diblok saja akun orang yang suka melakukan mom shaming. Namun, jika yang pelakunya adalah suami atau keluarga terdekat, maka ajak bicara dan jelaskan baik-baik. 

Jika ada yang nyinyir langsung di depan mata kita, maka abaikan saja atau jelaskan seperlunya. Biasanya orang yang suka nyinyir akan ngeyel, jadi hindari berdebat dengan tipe orang seperti itu karena akan menguras tenaga dan pikiran. Lingkaran pertemanan dan interaksi akan berpengaruh dengan seberapa sering mengalami mom shaming, jadi perlu memilih lingkungan yang tepat untuk menjaga kewarasan.

Perluas wawasan dan pengetahuan

Mengasuh dan merawat anak memerlukan ilmu, bukan hanya tradisi turun-temurun. Misalnya anak baru umur dua bulan sudah diberi pisang, tentu itu salah. Oleh karena mengupdate ilmu tentang pengasuhan anak. Dengan begitu, jika ada orang yang berkomentar negatif, tidak setuju, atau mempertanyakan pilihan ibu, jelaskan dasar dan sumber ilmunya.

Jika yang melakukan mom shaming adalah orang tua atau mertua dengan membandingkan pola pengasuhan zaman dulu, jelaskan saja bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang. Apa yang diterapkan zaman dulu bisa saja sudah tidak relevan dengan zaman sekarang.

Minta dukungan suami

Suami adalah support system yang utama bagi istri, jadi yang pertama harus diajak kompak adalah suami. Para bapak atau calon bapak juga harus belajar pengasuhan anak karena mengasuh anak bukan hanya tugas ibu tapi kewajiban bersama. Jadi, ketika istri mengalami mom shaming, suami harus bisa menjadi tamengnya.

Istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian adalah pakaian untuk mereka

Kita tidak bisa mengontrol komentar dan apa yang dipikirkan orang lain. Namun, kita bisa mengontrol bagaimana respon kita terhadap komentar orang lain. Untuk ibu-ibu yang pernah mengalami mom shaming, keep strong ya demi kewarasan menjadi seorang ibu.

Post a Comment

7 Comments

  1. Thanks ilmunya, Mom. Walaupun belum punya debay, ilmunya aja dulu.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih ilmunya mbak, lagi lagi isu momshaming ini hadir dari kegiatan "saling membandingkan" ya mbak, meski saya blm merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, tapi jujur saja saya cukup aware dengan isu ini :)

    ReplyDelete
  3. Sepakat mak, harusnya masuk buku pink ya materi ini.

    ReplyDelete
  4. Artikelnya sangat bermanfaat. Kita memang harus menahan diri dalam berkomentar. Terutama bagi para ibu yang baru saja melahirkan. Niat ingin menasihati malah menimbulkan luka hati.

    ReplyDelete
  5. Sebuah bekal untuk calon ibu, bermanfaat sekali

    ReplyDelete
  6. mantap nih. emak-emak jaman now yang berperilaku berdasarkan ilmu. keren

    ReplyDelete