Drama dan Perjuangan Melatih Anak Toilet Training

melatih anak toilet training


Melatih anak untuk toilet training adalah salah satu proses penuh drama yang aku lalui setelah proses menyapih. Walau kini si bocah sudah berusia 5 tahun, perjuangan dua tahunan yang lalu masih belum terhapus dari ingatan. Jadi, sebelum aku tambah tua dan kehilangan memori tentang toilet training Khanza aku ingin menuliskannya di sini. Siapa tahu kelak dia mau baca ceritanya ini dan mungkin saja bisa bermanfaat bagi yang sedang berjuang menemani si kecil toilet training.

Toilet training atau belajar menggunakan toilet sendiri ketika buang air kecil dan buang air besar salah satu kemandirian yang perlu diajarkan kepada anak. Masa sudah besar masih harus dibantu saat pipis dan pup? Kecuali jika si anak memiliki kebutuhan khusus. Biasanya anak mulai bisa toilet training pada usia 18 bulan sampai sekitar 3 tahun. Namun setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda-beda jadi tidak perlu dibandingkan dengan anak lain.

"Aduh, anak tetangga sudah bisa pipis sendiri, kok anakku belum?" Lalu menggegas anak untuk toilet training padahal anak belum siap. Mendidik dan membesarkan anak bukanlah suatu perlombaan dengan orang lain, tidak perlu merasa menang atau kalah karena setiap orang memiliki tantangannya masing-masing dan setiap anak itu unik. 

Toilet training sebaiknya dimulai ketika anak sudah siap baik secara fisik dan emosional. Karena itu, orang tua perlu mengamati anak atau mengajak si kecil ngobrol jika si kecil sudah bisa bicara. Aku sendiri mulai melatih Khanza toilet training ketika usianya sekitar 2 tahun dan melalui proses yang panjang, menguras emosi dan tenaga. 

Jadi sebelum mengamati kesiapan anak, amati dulu kesiapan diri sendiri sebagai orang tua yang akan mendampingi anak toilet training. Namun, jika asisten atau baby sitter yang akan menemani anak toilet training, maka berikan pemahaman dulu kepada mereka ya.


Tanda Anak Siap Toilet Training

tanda anak siap toilet training

Dulu aku memutuskan melatih anak toilet training ketika dia sudah mau menggunakan WC dan mulai menunjukkan ekspresi tertentu ketika kebelet pup. Iya, Khanza lebih cepat bisa pup sendiri ketimbang pipis sendiri. Soalnya tandanya lebih khas saat kebelet pup, misalnya tiba-tiba diam, mukanya serius, menatap satu arah, lalu mulai ngeden wkwk. Ketika gelagat tersebut mulai muncul aku segera mengangkutnya ke toiletBerbeda ketika kebelet pipis, tanpa ada sirine peringatan tiba-tiba celana atau lantai basah bau pesing.

Tanda fisik

Ada beberapa tanda fisik anak siap toilet training. Berikut beberapa tandanya: 

1. Menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh tertentu ketika anak ingin buang air kecil atau buang air besar. 

2. Anak sudah jarang pipis di popok, misalnya popoknya masih kering setelah lebih dari dua jam atau anak tidak ngompol lagi ketika tidur.

3. Waktu anak pipis dan pup bisa diprediksi atau di waktu yang berdekatan tiap harinya. Misalnya setiap pagi setelah sarapan selalu pup atau setiap habis minum kebelet pipis.

4. Anak sudah tidak pup di popok pada malam hari.

Tanda secara emosional


Selain tanda fisik, orang tua juga perlu memperhatikan kesiapan emosional anak. Jika secara fisik sudah siap tapi anak belum mau, sebaiknya jangan dipaksakan dan cari penyebabnya kenapa anak tidak mau. Berikut beberapa tanda secara emosional ketika anak siap toilet training:

1. Anak lebih memilih memakai celana daripada memakai popok karena merasa tidak nyaman jika memakai popok.

2. Anak merasa jijik dan risih ketika popoknya sudah kotor dan minta segera diganti.

3. Anak mulai bisa memberi tahu atau memberikan tanda ketika kebelet pipis atau pup.

4. Anak mulai tertarik menggunakan toilet.

Khanza termasuk anak yang mudah jijik dengan toilet, bahkan dulu dia tidak mau menginjak lantai toilet padahal sudah dikosek. Nggak menghargai banget emaknya udah ngosek WC deh. Jadi tiap ke WC harus diangkat dulu dari depan pintu sampai nongkrong di atas WC. 

Mungkin beberapa anak juga memiliki masalah yang sama, tidak mau ke toilet. Jika begitu perlu dicari dulu penyebabnya, apakah toiletnya kotor, tidak nyaman, atau tidak menarik untuk anak. Sekarang kan sudah banyak hiasan kamar mandi dan potty training dengan gambar kartun menggemaskan untuk anak. Jadi bisa dicoba menggunakan perlengkapan kamar mandi yang menarik minat anak.

Tips Melatih Anak Toilet Training

Toilet training bisa menjadi proses panjang dan tidak instan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai anak lulus toilet training juga berbeda-beda. Ada yang dalam hitungan hari sudah berhasil, ada juga yang berbulan-bulan baru lulus.  

Pastinya akan ada momen "bocor" sehingga harus lebih sering mengepel lantai. Jadi, tips pertama dan yang paling penting adalah sabar, Buuu. Klise banget kan, tapi memang itu yang utama. Jika tidak sabar maka kujamin akan mudah menyerah dan kembali ke popok. Oleh karena itu seperti yang kutulis di atas, sebelum mempersiapkan anak adalah persiapkan diri bapak dan ibu dulu.

Aku pun sempat menyerah dan kembali ke popok karena si bocah tidak kunjung lulus pipis sendiri. Entah berapa puluh kali aku ngepel lantai. Apalagi di tengah toilet training adalah momen lebaran dan aku sekeluarga mudik. 

Di kampung halaman, banyak sepupu Khanza yang ngajak main. Ambyar sudah usahaku melatih Khanza toilet training karena jika sudah main dengan para sepupu, pakde, dan bude hasrat ingin pipis jadi tidak terasa. Tahu-tahu ada panggilan dari ponakan, "Tanteeee, Khanza ngompoooool."

Kembali ke popok di tengah toilet training adalah keputusan yang tidak tepat karena setelahnya seperti mengulang dari nol. Jadi, selain sabar juga harus konsisten. Namun, saat itu apalah dayaku, daripada rumah saudara pesing jadi aku pasrah saja mengulang proses toilet trainingnya.

Sebelum mulai toilet training ada beberapa persiapan yang aku lakukan, salah satunya adalah membeli peralatan tempurnya, selebihnya sebagai berikut:

tips toilet training


1. Membeli beberapa perlengkapan toilet training

Ada beberapa perlengkapan untuk toilet training anak, misalnya adapter seat atau dudukan pada toilet dengan ukuran yang kecil. Namun, karena dulu kamar mandi rumahku menggunakan WC  jongkok jadi aku tidak memakai ini.

Jadi sifatnya tidak wajib ya, sesuaikan saja dengan kebutuhan masing-masing. Jika mau membeli ajak anak untuk memilih sendiri. Selain itu, bisa juga menghias toilet misal dengan menempel stiker yang lucu untuk anak-anak agar si kecil mau ke toilet. Aku sih cukup dengan membawa beberapa mainannya ke kamar mandi saja jadi tidak perlu membeli lagi. Emak-emak hemat gitu deh.

2. Ganti popok dengan training pants


Memulai  toilet training, aku mengganti popok dengan training pants, semacam celana dalam tapi tebal gitu. Jadi jika si kecil pipis tidak langsung tembus dan bocor. Training pants ini tidak seperti popok sekali pakai yang bisa menyerap air kencing,  jadi ketika anak pipis tetap terasa basah. Jika anak sudah lulus dengan training pants, bisa diganti dengan celana dalam biasa.

3. Ajarkan anak cara menggunakan toilet

Sebelumnya ajarkan anak cara menggunakan toilet, misalnya bagaimana jongkok atau duduk di atas toilet, bagaimana menyiram bekas pipis dan pupnya, serta cara ceboknya. Untuk cebok bisa diajarkan belakangan setelah anak bisa pipis dan pup di toilet.

4. Buat jadwal anak ke toilet

Jika setiap harinya anak pipis dan pup di waktu yang berdekatan maka jadwalnya bisa diprediksi. Dulu aku mengajak Khanza ke toilet tiap 2 jam sekali, kadang benar pipis kadang juga tidak. Begitu juga tiap malam sebelum tidur dan pagi bangun tidur. Sedangkan untuk pup aku mengandalkan alarm dari ekspresi Khanza. Akhirnya Khanza lulus toilet training di usia 3 tahun, tidak lama setelah lebaran. Benar-benar perjuangan selama berbulan-bulan. 

5. Buat reward chart

Biasanya anak-anak akan semangat jika mendapat reward walaupun hanya berupa menempel tanda bintang di reward chart. Jadi, boleh dicoba membuat reward chart misalnya tiap anak berhasil pipis di toilet akan mendapat satu bintang di tabelnya. Aku dulu tidak memakai ini karena tidak kepikiran. Baru tadi buka canva ternyata banyak sekali potty chart yang siap pakai, tinggal print saja.

potty training chart
contoh reward chart


Belajar pipis sama pup saja ribet dan panjang ya. Melatih kemandirian si kecil memang butuh effort yang lebih banyak. Adakah yang sedang melatih anak toilet training? Semangat yaaa.




Post a Comment

0 Comments