Pentingnya Berpikir Kritis di Tengah Maraknya Hoax Covid-19

berpikir-kritis


Di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga teratasi, penyebaran informasi yang tidak valid alias hoax makin merebak. Akses media sosial yang semakin mudah membuat sebuah informasi sangat mudah tersebar. Jika netizen tidak berpikir kritis, maka bisa berpotensi untuk terkecoh oleh hoax covid-19 yang banyak beredar.

Beberapa hari yang lalu aku mendengus kesal dan prihatin ketika membuka grup WA keluarga. Ada sebuah pesan yang diteruskan berbunyi "mengunyah daun sirih bisa mencegah infeksi corona." Biasanya aku langsung mengklarifikasi jika ada yang mengirim pesan hoax sejenis itu.

Tak hanya itu, banyak juga informasi seperti ini, "Mulai saat ini bapak dan ibu tidak usah panik karena sudah ada obat ampuh untuk covid-19. Cukup dengan minyak kayu putih. Teteskan minyak kayu putih di air hangat lalu minum. Oleskan minyak kayu putih di ujung lidah terdalam." Entah sudah berapa kali kubaca pesan tersebut di grup WA, status WA, dan di twitter.

Belum ada penelitian yang membuktikan kedua hal itu. Para dokter yang menangani covid-19 pun menyangkal klaim tersebut. Anehnya, banyak yang melakukan hal itu. Padahal sudah jelas bahwa minyak kayu putih adalah untuk dioles, bukan diminum.

Kemajuan teknologi informasi perlu diiringi dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis. Namun, sayangnya tidak semua masyarakat mencari kebenaran informasi yang diterimanya. Tidak sedikit yang langsung menelan mentah-mentah setiap berita dan informasi.


Beberapa Hoax Covid-19 yang Banyak Beredar

Membuka media sosial menjadi sangat melelahkan bagiku selama pandemi covid-19 ini. Ada saja informasi yang membuatku geleng-gelang kepala hingga ingin marah-marah. Mulai dari semakin bertambahnya jumlah kasus, berita tenaga medis meninggal, banyaknya masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan, dan beredarnya hoax covid-19 yang memperdaya masyarakat.

Selain kedua hal yang aku sebutkan di atas, berikut beberapa berita hoax tentang covid-19 yang banyak beredar di media sosial:


1. Covid-19 adalah konspirasi belaka

Entah bagaimana dan siapa yang mencetuskan ide bahwa covid-19 adalah konspirasi belaka. Beberapa teori menyebutkan bahwa covid-19 adalah senjata biologi dan karena kebocoran laboratorium di Cina. Ilmuwan telah menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar dan pandemi covid-19 ini bukan hanya konspirasi. 

Padahal jumlah pasien positif terus bertambah banyak, rumah sakit mulai penuh, dan tenaga medis mulai kewalahan. Namun tetap saja ada yang menganggap covid ini hanya rekayasa. Jika para ilmuwan saja tidak dipercaya, lalu kepada siapa harus percaya?

2. Dokter dan rumah sakit sengaja "mengcovidkan" pasien agar mendapat insentif

Beberapa waktu lalu sempat viral sebuah cuitan di twitter yang mengatakan bahwa rumah sakit dan tenaga medis sengaja "mengcovidkan" pasien agar mendapat insentif dari pemerintah. Beberapa rumah sakit yang dituduh telah mengeluarkan pernyataan untuk membantah pernyataan tersebut.

Aku sendiri mempunyai banyak teman yang berjuang langsung menangani pasien covid-19. Beberapa kali aku melihat story teman di instagram ketika mereka kegerahan memakai baju hazmat untuk merawat pasien. Di twitter pun banyak tenaga medis yang menceritakan perjuangan merawat pasien covid-19.

Sedih sekali ketika ada yang berkomentar jahat dan memfitnah para tenaga medis ketika sudah banyak dokter dan perawat yang meninggal akibat tertular covid-19. Ketika ada tenaga medis yang mengeluh sedikit saja di media sosial langsung ditimpali, "Ya salah sendiri mau jadi dokter. Kan risiko pekerjaan itu." Sungguh tidak beradab.

3. Thermogun bisa merusak otak

Bulan lalu ketika aku belanja barang kebutuhan di swalayan seorang satpam menghampiriku di depan pintu masuk. Dia membawa thermogun lalu menembakkan thermogun tersebut ke tanganku. "Lho, kok di tangan pak, nggak ngefek dong?" tanyaku terheran-heran. Namun si bapak hanya tersenyum sambil berlalu begitu saja menuju pengunjung lain.

Saat itu berita tentang thermogun bisa merusak otak sedang hangat. Banyak sekali yang percaya sehingga tidak mau lagi ditembakkan thermogun di dahi. Padahal lagi-lagi para ahli telah membantah hal tersebut. Infrared dari thermogun tidak berbahaya bagi otak. Jadi, jangan lagi takut diperiksa menggunakan thermogun di dahi.

Ketiga poin di atas hanya sedikit contoh, masih banyak hoax lain yang beredar. Bahkan dari berita Kompas, terdapat lebih dari seribu hoax tentang covid-19. Beberapa hoax yang beredar telah disangkal oleh hoax buster satgas penanganan covid-19.


Apa dan Bagaimana Cara Berpikir Kritis?

Kritis menurut KBBI adalah bersifat tidak mudah percaya dan tajam dalam menganalisis. Berarti berpikir kritis atau critical thinking adalah kemampuan untuk merespon dan menganalisa suatu pemikiran atau informasi yang diterima. Pandanglah suatu berita secara objektif, bukan subjektif. Serta jangan terlalu reaktif ketika menerima berita dan informasi. 

Baca juga: Reaktif vs Responsif dalam Menghadapi Masalah

Dengan berpikir kritis kita tidak akan mudah percaya dengan suatu berita yang tidak jelas sehingga tidak termakan isu hoax. Jika semua orang berpikir kritis, penyebaran hoax bisa dicegah.

cara-berpikir-kritis


Berikut beberapa cara untuk berpikir kritis ketika menerima suatu informasi:

1. Baca informasi dengan saksama dan kenali masalahnya

Jangan membaca informasi dengan setengah-setengah, apalagi hanya membaca judul berita. Sepertinya hanya membaca judul adalah kebiasaan banyak orang. Salah satu tanda darurat literasi. Padahal, banyak portal berita yang membuat judul clickbait. Kadang judul berita nggak nyambung sama isinya.

Belum juga baca isi berita, baru baca judul sudah terprovokasi dan reaktif dengan memberikan komentar berisi cacian. Yuk, budayakan membaca dengan baik agar bisa memahami permasalahan yang dibahas. Jika kita sudah memahami permasalahannya, kita bisa mencari tahu kebenarannya.

Baca juga: Adaptasi Baru di Bidang Literasi Selama Pandemi

2. Cari sumber informasinya

"Katanya, pakai ini bisa menangkal Covid."

"Katanya, dia periksa di RS A dibilang Covid, tapi periksa di tempat lain bukan Covid."

Seberapa sering kita mendapat berita bersumber "katanya"? Coba mulai sekarang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan "katanya itu kata siapa? Dia itu siapa? Apakah yang langsung mengalami atau sebagai saksi? Apakah dia ahlinya?" Dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu kita bisa menggali sumber informasinya.

Jika sumber informasinya saja tidak jelas, haruskah kita langsung percaya? Ketika menulis saja kita perlu mencatumkan referensi bacaannya di daftar pustaka. Seharusnya kita menerapkan itu juga ketika menerima berita.

Waktu kuliah dulu ada satu mata kuliah tentang critical appraisal, yaitu metode untuk menilai validitas sebuah jurnal atau hasil penelitian. Sebuah jurnal hasil penelitian saja masih perlu dianalisa sebelum digunakan untuk mengambil keputusan, apalagi hanya info "katanya".

Dalam dunia kedokteran untuk memberikan suatu pengobatan harus didasarkan dengan Evidence Based Medicine (EBM). Harus ada dasar ilmiahnya ketika memberikan penanganan atau pengobatan, bukan berdasarkan testimoni orang lain. 

3. Cari informasi yang sejenis sebagai pembanding

Agar bisa objektif jangan hanya melihat berita dari satu sisi atau satu sumber saja. Perlu mencari sumber lain untuk berita yang sejenis, tentu saja harus sumber yang valid. Di internet atau dunia maya, seseorang bisa menyebarkan suatu informasi dengan sangat mudah. Jadi, jangan asal percaya berita dari internet seperti Bu Tejo. Periksa dulu kredibilitas sumber beritanya.

4. Tanyakan kepada ahli yang terpercaya

Mencari informasi bisa juga dengan bertanya kepada ahlinya. Jika ingin mengetahui kebenaran berita tentang Covid-19, tanyakan kepada dokter yang menangani atau ilmuwan. Tak perlu susah-susah mendatangi, karena para dokter tersebut sering berinteraksi di media sosial. Misalnya di jagad twitter dan instagram ada dr. Dirga yang sering memberikan update tentang covid-19.

Nah, itulah beberapa cara untuk berpikir kritis. Dengan begitu, kita tidak akan mudah termakan hoax dan bisa mencegah penyebarannya. Terutama sekarang, banyak sekali hoax tentang Covid-19 yang membuat masyarakat menjadi abai dengan protokol kesehatan. Kalau kamu, bagaimana reaksimu ketika menerima suatu berita?



 

 


Post a Comment

1 Comments

  1. Salam kenal mbak Wiwit. Perdana menjejak komen di postingan mbak. Alhamdulilah sampai saat ini keluarga kami berusaha masih berdiam di rumah, gak ke luar-luar kecuali ada yang penting saja. Berasa menjadi minoritas karena di sekeliling kita yang mayoritas ya justru yang ga percaya covid itu ada, abai sama protokol kesehatan, mendiskreditkan tenaga kesehatan, menyebar hoax (duh ini palig eneg mbacanya).
    Sejauh ini selalu berusaha mencari sumber terpercaya untuk informasi Covid entah dengan follow medsos kementerian kesehatan, para dokter dan ahli epidemologi yang sudah teruji kepakarannya. Termasuk akun Pandemictalks, Pandu Riono, WHO dll.

    ReplyDelete