Tips Memasak Untuk yang Tidak Suka Memasak

tips memasak

 "Eh, gimana sih? Situ ngajak kelahi? Gak suka masak kok dikasih tips memasak, kasih makanan siap santap dong!"

"Eits, tunggu dulu. Jangan ngomel dulu yak. Mending baca dulu sampai selesai. wkwk."

Untuk orang yang tidak suka masak, aku contohnya, aktivitas memasak mungkin akan terasa melelahkan. Mau masak saja harus menunggu mood selangit, harus ngumpulin niat dulu jauh-jauh hari. Aku aja sih itu kayaknya ya.

Namun sayangnya, tidak semua orang yang tidak suka masak tersebut bisa terus-terusan tidak masak. Ada orang yang tidak suka masak tapi tetap harus masak, tidak mungkin tiap mau makan delivery, tidak ada ART yang masakin. Contohnya aku lagi. Kalau tiap makan harus beli, bisa boncos di dompet. Jadi mau nggak mau harus masak. Ya walaupun sesekali, dua kali, dan beberapa kali tetap beli makan alias jajan, seenggaknya tidak tiap makan jajan. 

Ingin menghemat pengeluaran dan tetap menyajikan makanan untuk keluarga adalah motivasiku memasak. Ketika memasak, sebisa mungkin waktu nguprek dapur tidak lebih dari satu jam. Udah kayak ikutan master chef gitu deh.

Karena itu aku perlu mencari cara agar tidak terlalu lama berkutat di dapur untuk masak, semakin cepat semakin baik. Jika wanita sempurna adalah yang suka masak dan masakannya selalu enak, maka aku tidak akan masuk nominasi.

Selain karena tidak suka masak, mungkin di luar sana juga banyak ibu-ibu atau bapak-bapak yang sibuk sehingga waktu untuk masak terbatas, tetapi tetap harus masak untuk keluarga. Tipe-tipe ini pastinya juga membutuhkan tips memasak praktis dan secepat kilat.

Manajemen Dapur Agar Waktu Memasak Efektif

Tolong jangan bayangkan tips profesional ala chef terkemuka, karena ini hanyalah sharing dari seseorang yang nggak suka masak. Jadi manajemen dapurnya pun bukan yang pro, hanya mencoba untuk mempersingkat durasi berhadapan dengan kompor, wajan, panci dan teman-temannya saja. Yak, tanpa berpanjang-panjang lagi, inilah "manajemen dapur" untuk menyingkat waktu memasak.

manajemen dapur


1. Buat daftar menu masakan dan pilih menu yang simpel

Mikir mau masak apa bisa lebih lama dari waktu masaknya. Belum lagi kalau harus diskusi sama suami dan si bocil maunya makan apa, puyeng lagi kalau maunya beda-beda. Jadi sebisa mungkin sudah ada rencana masak apa untuk seminggu, sepuluh hari, atau dua minggu ke depan. Aku sendiri tidak membuat daftarnya dalam tertulis, hanya di angan-angan saja kira-kira apa saja yang akan dimasak seminggu ke depan. Pernah buat meal plan mingguan dalam bentuk tertulis tapi nggak rajin nulisnya. Namun, lebih baik ditulis ya agar jelas dan tidak bingung lagi mau masak apa hari ini.

Untuk menunya pilih yang semua anggota keluarga bisa makan, jadi tidak perlu membuat berbagai jenis makanan untuk setiap orang, rempong kan. Selain yang sesuai selera semua anggota keluarga, juga pilih menu yang simpel dan praktis. Sop, tumis, dan sayur bening adalah andalanku ketika masak sayur. Bisa juga tambahkan protein di sayur, msalnya masak sop ayam, sop daging, atau tambahkan sosis dan bakso. Dengan begitu tidak masak lauk pun tak apa karena sudah ada protein di sayur.

Sedangkan untuk lauk, aku pilih yang simpel seperti ayam, udang dan cumi yang digoreng tepung lalu tinggal tambahkan berbagai macam saus, misal saus mentega, saus asam manis. Masak daging marinasi, misalnya teriyaki, juga simpel. Tinggal marinasi saja dagingnya dengan bumbu marinasi lalu ditumis dengan bawang bombay. Pilih bagian daging yang cepat empuk seperti has dalam atau beefslice. Membuat ayam ungkep lalu disimpan dikulkas, jadi sewaktu-waktu tinggal goreng juga bisa menjadi pilihan.

2. Belanja bahan untuk seminggu

Agar tidak setiap mau masak harus ke warung, maka lebih baik belanja bahan masakan untuk periode tertentu, aku sendiri mingguan. Jadi, sebelum belanja sebaiknya siapkan dulu daftar masakan minggu depan dan bahan apa saja yang dibutuhkan. Karena kalau tidak, bisa jadi malah ada bahan penting yang nggak dibeli atau justru beli bahan yang ternyata tidak terpakai, jadi mubadzir deh. Dengan daftar belanja juga akan mempersingkat waktu belanja dan tidak bingung lagi waktu di tukang sayur, "Beli apa yah?"

3. Food preparation
 
Jika belanja bahan makanannya langsung untuk stok beberapa hari, maka harus disimpan dengan baik agar tidak cepat busuk. Ada berbagai metode food preparation. Aku sendiri untuk protein hewani seperti ayam, daging sapi, udang, atau cumi simpan di freezer dan langsung bagi untuk setiap porsi. Jika disimpan menjadi satu, maka ketika akan memasak harus dicairkan semua dulu. Jika daging dari freezer sudah dicairkan sebaiknya tidak dimasukkan lagi ke dalam freezer.

Sedangkan untuk sayuran aku simpan di kulkas bawah/ chiller pakai wadah semacam t*pp*rw*r* gitu. Simpan sayuran dalam kondisi kering, jadi kalau dicuci dulu sebelum disimpan, pastikan sudah ditiriskan sebelum masuk wadah. Jika disimpan dalam keadaan basah bisa cepat busuk. Alasi wadah dengan tisu dapur atau kain untuk menyerap air dari sayuran agar tidak lembab atau basah.

4. Siapkan bumbu dasar

Bagian lain yang membuat masak menjadi lama adalah menyiapkan bumbu. Apalagi untuk masakan ribet yang membutuhkan bumbu super lengkap, misalnya rendang. Nah, untuk mempersingkat waktu bisa diatasi dengan menyiapkan bumbu dasar, misalnya bumbu putih dan merah. Namun, aku sendiri sebenarnya belum mempraktikkan ini (tolong jangan dihujat dulu). Karena di sini banyak yang menjual bumbu dasar ini, bukan bumbu instan ya, jadi tinggal ke tukang jualan bumbu. Misal mau masak rendang tinggal ke ibu penjual bumbu dan bilang:

"Bu, mau beli bumbu rendang." 
"Berapa?"
"Kalau dagingnya sekilo seberapa ya, Bu?"
"15 ribu."
"Oh yaudah segitu, Bu. Cabenya jangan banyak-banyak ya, Bu." lalu si ibu akan meracikkan bumbunya dengan lengkap.
"Nanti santannya sekilo juga kan, Bu?"
"Iya." Beli bumbu bonus tanya-tanya resep.

Atau ketika ingin masak ayam goreng aku juga beli bumbu ungkepnya, "Bu, mau beli bumbu ayam bumbu. Banyakin lengkuasnya ya, Bu." Sepertinya penjual bumbu ini menguasai bumbu banyak masakan.

Aku menjumpai penjual bumbu semacam ini ketika pindah ke Riau. Di Jawa aku tidak menjumpai penjual bumbu seperti di sini, paling adanya bumbu instan berbagai merk itu. Jadi, mungkin nanti ketika pindah ke Jawa aku baru akan membuat bumbu dasar ini ehehe.

5. Minta bantuan anggota keluarga

Jika ada anggota keluarga yang bisa menjadi bala bantuan, maka manfaatkanlah wkwk. Misalnya memberi anak tugas mengupas bawang, memotong dan mencuci sayur, dan lainnya, sesuaikan dengan kemampuan anak.

Karena anakku masih kecil jadi kadang-kadang ikut bantu mengupas bawang putih. Kalau membuat kue misalnya brownies gitu baru semangat bantu mengaduk adonan. Jadi untuk masak seringnya masak sendiri saat hari kerja. Saat hari libur kadang suami juga ikut masak atau bantu cuci perabotnya. Karena suamiku memang suka mencoba masakan baru, apalagi kalau ada makanan yang viral atau hits, maka bisa jadi langsung cari resepnya dan dieksekusi saat itu juga, impulsif memang ya.

Nah, itu tips memasak ala diriku yang gak suka masak. Mau masak sendiri, memakai jasa katering ataupun membeli makanan siap santap adalah preferensi pribadi, bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing. 

Tidak perlu merasa lebih unggul karena setiap hari bisa membuat makanan homemade dengan bahan serba organik. Tidak perlu juga merasa rendah diri karena tidak bisa memasak dan mendelegasikan urusan makanan kepada pihak lain. Dan sebagai netizen juga tidak perlu mengomentari orang lain mau masak apa nggak, kecuali kalau mau ngirim makanan.

Masih banyak juga yang mempunyai persepsi bahwa urusan dapur adalah kewajiban seorang perempuan atau ibu, tetapi menurutku tidak harus begitu.  Tidak jago masak tidak membuat seorang perempuan menjadi perempuan yang buruk. Dan juga, mau laki-laki ataupun perempuan sah-sah saja untuk berkutat di dapur. 

Hanya karena tidak suka dan tidak bisa memasak bukan berarti kamu adalah ibu yang buruk.





Post a Comment

0 Comments