Reaktif vs Responsif dalam Menghadapi Masalah


reaktif vs responsif


Akhir-akhir ini saya suka menyimak tulisan ataupun webinar yang bertema kesehatan mental. Mungkin wabah covid-19 sudah menguras kewarasan saya. Bagaimana tidak? Gara-gara covid saya tidak bisa mudik lebaran, tidak bisa jalan-jalan, hanya bisa di rumah bagai katak dalam tempurung, pokoknya semua gara-gara covid. Apalagi ketika membuka media sosial atau berita, ada saja kabar yang membuat sakit kepala. Saya benar-benar membutuhkan cara menjaga kewarasan.

Kemarin duo psikiater favorit jagad instagram dan twitter mengadakan live di instagram. Siapakah mereka? Tidak lain dan tidak bukan adalah dr  Jiemi SpKJ dan dr Andreas SpKJ. Tema IG livenya adalah BTS (Belajar Tidak Spontan), karena itu beliau-beliau ini maunya dipanggil hyung atau oppa, mungkin berasa boyband gitu kali, hmm.

Topik ini sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, karena pastinya tiap hari kita akan bereaksi terhadap sesuatu, entah itu situasi, kabar berita, komentar orang di media sosial atau perkataan seseorang. Saya sendiri masih sangat perlu belajar untuk tidak reaktif menghadapi suatu situasi, terutama kepada anak yang tingkahnya sering menggemaskan dan kepada suami yang tidak juga mengerti kode istrinya.


Apa itu reaktif dan responsif?


apa itu reaktif dan responsif


“Sesuai dengan hukum Newton ke-3, jika ada aksi maka akan ada reaksi,” begitu kata dr. Andreas. Hmm, tidak salah sih memang. Untuk menjelaskan reaktif dan responsif, dr. Andreas memberikan suatu contoh kasus yang dialaminya sendiri, begini ceritanya.

“Suatu ketika beliau memesan 2 porsi makanan melalui ojek online. Setelah ditunggu akhirnya pesanan makanannya datang. Namun, setelah diperiksa hanya ada satu porsi.”

Kalau saya sih lebih seringnya pesanan datang tapi tidak sesuai. Misal pesannya tidak pedas eh yang datang tetap pedas juga. Pasti kesel dong.

Pada contoh dr. Andreas pesannya dua, eh yang datang cuma satu. Mana kenyang? Nah jika begitu, apa yang akan dilakukan?

Apakah akan langsung marah-marah, memberi bintang satu dan memberikan penilaian negatif?

Di kasus dr Andreas, beliau memilih melihat lagi apakah sudah benar memesan dua? Oh ternyata benar. Berarti salah drivernya dong? Belum tentu. Jadi beliau menghubungi si driver untuk memastikan lagi dan kata si driver memang cuma dapat satu dari tokonya. Kemudian si driver kembali ke toko makanannya daaan, ternyata yang satu porsi ketinggalan dong. Driver tersebut lalu kembali mengantarkan makanan satunya dan meminta maaf. Setelah itu masalah selesai. Pesanan kembali lengkap dan si driver tidak perlu dapat bintang 1, semua lega semua senang.

Hasil akhirnya mungkin akan berbeda jika beliau memilih memberikan bintang 1 dan review negatif. Bisa jadi si driver kena suspend atau peringatan yang bisa merugikannya.

Sikap tersebut, yang memilih untuk memastikan dulu dan menghubungi driver adalah contoh sikap responsif, bukan reaktif.


Metode S-T-O-P agar tidak reaktif


metode stop

Contoh lain diberikan oleh dr Jiemi. Beliau menceritakan seorang perempuan yang suaminya adalah seorang pemabuk. Tiap dia pulang kerja, suaminya sering dalam keadaan mabuk. Bau alkohol sangat menyengat tercium dari mulutnya dan botol berserakan. Biasanya perempuan tersebut akan langsung marah-marah. Kemarahannnya akan membuat suaminya yang mabuk menjadi murka dan sering berakhir dengan tindak kekerasan.

Kemudian dr. Jiemi memberikan saran STOP, yaitu:

S: stop, berhenti

T: take a step back, mundur dulu

O: observe, perhatikan sekeliling

P: proceed mindfully. Pikirkan apa yang biasa dilakukan dan bagaimana hasilnya. Jika biasanya langsung reaktif dan justru membuat situasi makin buruk, maka pikirkan cara lain.

Di lain waktu, ketika dia pulang kerja dan mendapati suaminya dalam keadaan mabuk, dia teringat dengan pesan dr. Jiemi. Alih-alih mengomel, perempuan itu pilih berhenti dan diam. Kemudian dia mundur beberapa langkah (padahal di sini bukan maksudnya beneran mundur), lalu dia perhatikan sekitarnya. Botol-botol berserakan, bau alkohol menyengat, sudah pasti suaminya sedang teler. Lalu apa selanjutnya? Perempuan tersebut dengan tenang justru membereskan kekacauan rumah yang dibuat suaminya.

Melihat istrinya tidak  ada reaksi, si suami juga tidak ada tanda-tanda bertingkah dan tak lama kemudian tertidur. Tidak terjadi  pertengkaran lagi dan si perempuan terhindar dari kekerasan. Di sini, bukan berarti perilaku mabuk-mabukan itu diperbolehkan dan bisa dimaklumi ya. Namun, hal itu butuh penanganan sendiri.

Jadi, mulai sekarang jika rasanya emosi sudah mulai naik-naik ke puncak gunung, cobalah untuk menahan diri barang sebentar saja. Lalu coba metode STOP ini. Mungkin banyak hubungan akan terselamatkan jika ketika ada konflik tidak langsung adu mulut dan saling melancarkan serangan  dengan tajamnya lidah yang tidak bertulang ini, tapi dengan saling adu diam dan melakukan metode STOP ini, mungkin setelahnya justru saling adu rayu.


Tentang will power dan perlunya belajar responsif

Sikap responsif dalam menghadapi masalah sehari-hari sangat penting untuk dipelajari. Reaktif dalam menghadapi masalah bisa menimbulkan  kekacauan yang lebih besar. Ketika emosi sedang meningkat, maka kita tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Oleh karena itu, kita perlu diam sejenak untuk menguasai emosi.

"Ada kalanya diam sejenak membuat situasi lebih baik"

Dokter Andreas juga menjelaskan tentang "will power". Jadi "will power" adalah suatu kemampuan untuk melakukan dan menahan sesuatu. Bayangkan ketika bangun tidur bensin kita penuh, lalu seharian bekerja, macet di jalan, ada masalah sama teman atau pasangan, maka bensin akan turun banyak. Di kondisi seperti itu will power kita sudah sangat menipis. 

will power

Nah, ketika will power habis maka biasanya akan sulit untuk menahan sesuatu, misalnya tidak bisa menahan keinginan untuk konsumsi makanan dan minuman manis, belanja barang yang tidak penting, termasuk tidak bisa menahan emosi. Karena itu, biasanya orang yang capek emosinya jadi lebih tidak terkontrol. Jadi ketika will power habis cobalah untuk diam dulu, istirahat sejenak, tunggu beberapa jam atau besok agar bensin terisi lagi dan bisa berpikir dengan jernih.

Kita juga perlu mengenali tanda-tanda emosi mulai meningkat, misalnya detak jantung meningkat, dahi berkerut, atau mata melotot. Dengan begitu kita jadi tahu bahwa kita perlu diam dulu sejenak agar tidak reaktif.

Pentingnya belajar responsif bagi saya

Saya sendiri sebagai ibu dari anak balita merasa sangat perlu belajar responsif. Setiap hari pasti ada saja sesuatu yang membuat saya perlu elus dada dan beristighfar. Bahkan, beberapa saat setelah saya menyaksikan IG live dua dokter ini, saya langsung dapat cobaan untuk mengamalkan ilmu yang baru saya pelajari tersebut.

Jadi, anak saya sedang di dekat meja ruang tamu, wajahnya terlihat gelisah sambil sesekali melirik saya. Saya sebenarnya sudah curiga, tapi saya diam saja. Tak lama kemudian dengan nada sangat berhati-hati dan tatapan yang penuh kekhawatiran dia berkata, “Umi, airnya tumpah ke kertas ABC.” 

Spontan saya langsung menuju meja, saya lihat air bekas dia main tumpah ke meja. Saya segera mengamankan kacamata saya yang juga ada di meja tersebut. Printable alfabet yang sering digunakannya belajar sudah basah kuyup.

Jika menuruti emosi maka saya akan ngomel, “Kan tadi udah umi bilang, awas nanti tumpah. Kan bener tumpah.”

Namun, alhamdulillah saya sedang waras. Jadi saya diam sejenak lalu meminta anak saya untuk membereskan kekacauan di meja. Karena saya tidak mencak-mencak dan meminta dengan nada yang biasa, anak  saya langsung membereskan meja dan suasana kembali normal.

Situasi akan berbeda jika saya mengeluarkan taring, anak saya justru tidak akan mau bertangggung jawab dan bisa jadi dia malah ikutan marah-marah. Begitulah kadang situasi yang terjadi.

Belajar responsif sangat berguna untuk menjaga suatu hubungan. Sikap reaktif biasanya akan membuat situasi makin runyam dan membuahkan penyesalan di kemudian hari.

 “Coba, kemarin nggak ngomong gitu, pasti sekarang aku masih baik-baik saja sama dia, nggak perlu diem-dieman.” Itu hanya salah satu contohnya.

Daripada menyesal dan membuat orang lain sakit hati, jika kepada anak mungkin bisa menyebabkan trauma, akan lebih baik jika mulai sekarang belajar untuk responsif ketika menghadapi suatu masalah. Yap, semoga selanjutnya kewarasan selalu terjaga agar tidak reaktif terhadap sesuatu.

Kalau terlanjur reaktif dan situasi jadi kacau bagaimana? Ya minta maaflah :)


Post a Comment

2 Comments

  1. Aku jadi makin sadar ternyata selama ini yang aku lakukan adalah reaktif bukan responsif. Aku kedepannya akan belajar bagaimana responsif. Oia, btw makasih loh ka udah di suguhkan tulisan ini. Sangat berguna~

    ReplyDelete