Mentorship Blogging, Mengapa Harus Belajar Ngeblog?



Sebelumnya saya pernah menulis tentang belajar ngeblog selama stay at home. Sebenarnya dulu saya pernah beberapa kali membuat blog tapi tidak bisa konsisten hingga mangkrak dan lupa password. Namun, dulu saya hanya sekadar nulis dan upload, tidak ada bedanya dengan buku diary. Saya tidak pernah mengotak-atik lebih dalam bagaimana caranya tampilan blog bisa cantik, tidak hanya pasrah dengan template bawaan, bagaiman cara membuat artikel yang baik, dan bagaimana membangun relasi dengan sesama blogger. Hal itu semata-mata karena saya tidak mengerti bahwa ngeblog juga ada tekniknya. Nah, demi menunjang proses belajar ngeblog, saya memilih mentorship blogging di kelas bunda cekatan Institut Ibu Profesional (IIP).

Mentorship ini adalah program untuk belajar satu bidang dengan lebih dalam bersama orang yang sudah ahli atau berpengalaman, disebut mentor. Ada banyak mentor dengan berbagai bidang yang sangat menarik, mulai dari parenting, menulis, tahsin, tahfidz, memasak, baking, beberes, berkebun, manajemen emosi, blogging dan masih banyak lagi. Luar biasa memang para member IIP ini, bagaikan harta karun dalam komunitas. Ketika membaca profil para mentor rasanya saya tertarik untuk belajar semuanya. 

Namun, kami tidak boleh maruk, hanya boleh pilih satu bidang ilmu yang ingin dipelajari. Jadi harus kembali melihat peta belajar agar tidak tersesat dan tak tahu jalan pulang. Saya harus kembali fokus pada mind map, jangan sampai belok dan salah jalan. Lagian kalau belajar banyak hal dalam satu waktu mungkin otak saya juga akan ngebul.

Alasan memilih mentorship blogging


Setelah sekejap merasa silau dengan banyaknya guru di IIP, saya memutuskan untuk memilih mentorship blogging. Bukan tanpa alasan saya memilih belajar blogging. Ini dia empat jawaban dari pertanyaan "mengapa memilih mentorship blogging?"

1. Sesuai dengan mind map

Di mind map saya, salah satu hal yang ingin saya pelajari adalah tentang menulis. Perjalanan kepenulisan saya baru sampai menjadi content writer, kadang ikut lomba menulis, ikut beberapa proyek antologi, dan menulis di media online. Saya juga tidak punya wadah untuk menumpahkan hal-hal yang ada di hati dan pikiran yang sering random ini. Karena itu, membuat blog sepertinya bisa menjadi solusinya. Akhirnya  saya membuat blog dan mencoba karir baru sebagai blogger, tapi masih minim ilmu.

2. Belajar teknik blogging

Saya membuat blog sebelum ada program mentorship. Setelah membuat blog, permasalahan lama muncul kembali, apalagi setelah blogwalking dan melihat blog para senior yang cetar sekali. "Bagaimana caranya membuat blog bisa kece badai, eye catching, dan cantik memesona?" Awalnya saya browsing saja dan menyerahkan setting html kepada suami. Lama-kelamaan geregetan juga karena kadang suami slow respon sedangkan saya sudah ingin ini, ingin itu banyak sekali. Jadi saya harus belajar sendiri.

Nah, pas sekali saat saya mengalami konflik ini, kelas bunda cekatan mengadakan program mentorship. Dan taraaa, ada beberapa mentor blogging untuk pemula. Akhirnya saya menghubungi mbak Marita untuk mendaftar menjadi mentee blogging setelah saya berkelana di blognya.

Dari sinilah secara perlahan saya mulai mudeng tentang teknis blogging, mulai dari cara mengotak-atik setting blog hingga belajar SEO. Sungguh beribu terima kasih kepada mbak Marita yang tidak pelit ilmu, mau membagikan pengalaman, bahkan apa yang baru dipelajari mbak Marita juga langsung dibagi kepada kami para mentee.

3. Belajar jadi blogger profesional

Dulu, ketika awal-awal membuat blog saya tidak terlalu peduli dengan format tulisan, jumlah kata dalam satu artikel, setting blog, tampilan blog, dll. Pokoknya nulis aja, blog jadi tempat curhat, gambar juga seadanya bahkan kadang tulisan saja tidak ada gambar. Pernah juga membuat blog hanya untuk tempat setor tugas bunda sayang, jadi benar-benar pasrah dengan tampilan seadanya.

Sekarang niat saya sedikit berbeda, jika dulu blog jadi seperti buku diary dan cerita tentang keseharian, sekarang saya ingin berbagi ilmu dan sharing hal-hal bermanfaaat untuk orang lain. Jadi, saya ingin banyak yang berkunjung dan mendapat manfaat dari tulisan saya di blog. Dengan begitu, tentunya saya harus membuat blog yang profesional dong.
 
Jika blog tidak menarik dan tulisan seadanya nanti malah pada kabur orang. Karena itu, saya perlu belajar bagaimana para blogger senior mengelola blog dan tulisan. Saya perlu terus belajar untuk mengasah keterampilan menulis dan memperbanyak jam terbang agar mendapat hasil yang lebih baik dan bisa berbagi manfaat melalui blog. 

Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali tapi mengharapkan hasil yang berbeda.

4. Mencari dukungan

Rasanya belajar sendiri pasti berbeda dengan belajar bersama. Jika belajar sendiri, ketika saya bingung ya bingung sendiri, ketika semangat turun tidak ada yang menyemangati, tidak ada yang bisa saya tanyai. Jadi, saya perlu mendapat dukungan dan penyemangat ketika blogging. Entah ketika tidak ada ide tulisan, semangat turun, niat mulai berbelok, dan lainnya.

Dengan memilih mentorship blogging saya berharap mendapat dukungan dan arahan selama membangun blog. Alhamdulillah selama mentoring saya mendapat banyak dukungan dan insight baru dari mbak Marita. Beberapa hari lalu saya sempat down dan blog terbengkalai, di situ pun Mbak Marita  menyemangati saya. Semoga saja setelah program mentorship selesai Mbak Marita tetap mau saya tanya-tanyai. hehehe.





Post a Comment

2 Comments

  1. Insya Allah mbak ... Selama tahu jawabannya.. siap menjawab. Kalau nggak tahu jawabannya kita cari tahu & belajar bareng - bareng ya. Aku seneng semangatnya mbak Wiwid. 🤩🤩🤩 Keep fighting!

    ReplyDelete