Belajar Mengatur Uang Ala Ibu




Jika membicarakan privilege, maka saya bukanlah salah satu yang mempunyainya. Saya tidak lahir di keluarga kaya. Bapak saya dulu bekerja sebagai karyawan PT. KAI menjadi petugas yang mengecek rel kereta api, jadi bapak berjalan menyusuri rel dan memeriksa kondisinya, pernah juga sebagai penjaga lintasan kereta api. Sedangkan ibu saya membuat kue basah bernama sagon dan menjualnya ke pasar. Ibu memulai usaha tersebut sejak saya lahir, tahun 1990 dan masih bertahan sampai sekarang.

Hidup kami sangat sederhana. Dulu, saat saya masih kecil keluarga saya tidak punya TV, sehingga jika ingin menonton TV harus numpang ke tempat tetangga. Motor pertama bapak adalah motor bekas, tapi kami lebih sering menggunakan sepeda kemana-mana. Namun sepertinya dulu mah santuy saja hidup begitu, tidak ada rasa insecure atau khawatir berlebihan.

Saya dan kedua kakak saya pun cukup tahu diri jika ingin meminta sesuatu. Dulu ibu saya memberi kami uang saku mingguan, entah sejak kelas berapa saya lupa. Dari jatah uang seminggu itu saya bisa menabung. Saya ingat dulu punya cukup tabungan sendiri untuk membeli beberapa barang seperti baju, sendal, dan sepatu.

Walaupun keadaan kami pas-pasan, saya tidak pernah mendengar hal-hal negatif dari ibu saya seperti, "Ibu nggak punya uang", "uang dari mana?" ketika kami meminta sesuatu. Justru ibu saya sering berkata, "Allah maha kaya."

Dalam keadaan apapun, ibuku selalu berkata, "Allah maha kaya."

Jika dinalar dengan perhitungan financial planner yang terkenal itu, mungkin saya dan kakak-kakak saya tidak akan bisa sekolah apalagi sampai ke perguruan tinggi, kecuali memakai beasiswa. Jangankan sekolah, untuk biaya persalinan saja mungkin tidak sanggup. Namun, alhamdulillah saya dan kedua kakak saya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Ketika saya mengingat-ingat tentang bagaimana ibu saya mengatur keuangan, sepertinya yang dilakukan mirip dengan apa yang diajarkan financial planner sekarang. Padahal zaman dulu mana kenal financial planner? 

Ibu sebagai manajer keuangan

Bapak mempercayakan urusan mengatur keuangan ke ibu, semua gaji diberikan ke ibu. Jadi jika bapak ingin beli sesuatu ya harus minta ke ibu dulu. Bahkan rokok pun ibu yang membelikan, iya dulu bapak saya merokok sekarang alhamdulillah sudah berhenti, sejak saya kuliah. Sekarang adakah lelaki yang seperti itu? 

Manajer keuangan keluarga artinya mengatur semua urusan keuangan, keluar masuknya uang untuk kesejahteraan keluarga. Membagi berapa untuk belanja, ditabung, sedekah, dan lainnya. Bukan sebagai kasir yang hanya memegang uang dan mengalokasikannya sesuai instruksi, tidak ada wewenang bagaimana mengaturnya.

manajer keuangan


Manajer keuangan bisa dipegang suami atau istri, tergantung kesepakatan dan siapa yang lebih andal dan tentunya harus saling percaya. Sebagai manajer keuangan keluarga juga harus hati-hati  dalam mengambil keputusan terkait keuangan, jangan sampai ceroboh hingga merugikan keluarga. Saat mengambil keputusan penting sebaiknya tetap mendiskusikan dengan pasangan.

Misalnya tentang investasi, mau investasi dalam bentuk apa dan berapa sebulan. Jangan tanpa angin tanpa hujan memberi kabar bahwa uangnya hilang karena rugi saat investasi, padahal pasangannya tidak tahu atau bahkan tidak pernah setuju investasi tersebut. Dengan diskusi saat mengambil keputusan, maka masing-masing sudah tahu dan siap menghadapi risikonya bersama.

Ibu saya sebagai manajer keuangan, mengatur uang masuk dan mengalokasikannya untuk semua kebutuhan termasuk menabung. Ibu saya hanya menabung manual, di celengan dan di bank karena tidak mengerti dengan berbagai macam instrumen investasi. Jika ingin membeli sesuatu yang mahal, bapak dan ibu saya juga selalu diskusi lebih dulu. Tidak ada kucing-kucingan.

Cara ibu mengatur keuangan

Ibu bukan perempuan berpendidikan tinggi, tapi cara beliau mengatur uang mirip-mirip dengan anjuran para financial planner sekarang.  Walaupun dengan cara konvensional, ibu tetap bisa menabung untuk pendidikan ketiga anaknya hingga menabung untuk naik haji. Berikut beberapa cara ibu mengatur keuangan:

cara mengatur uang


1. Langsung membagi pemasukan menjadi beberapa pos

Karena ibu adalah pedagang, pemasukan ibu didapatkan harian. Setiap hari setelah pulang dari pasar, ibu menghitung sisa pendapatan hasil penjualan, sebagian uangnya sudah dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dari uang sisa tersebut ibu langsung membaginya menjadi beberapa pos, yaitu untuk bayar kelapa, beras ketan, dll yang merupakan bahan baku kue, untuk arisan dan dimasukkan ke celengan. Ibu dulu punya celengan dari kayu yang ada gemboknya, entah untuk apa uang itu.

Jadi, untuk  kebutuhan sehari-hari seringnya memakai uang hasil jualan ibu. Sedangkan untuk tagihan  listrik, air, uang sekolah memakai gaji bapak. Untuk sedekah dan infaq ibu menyisihkan dari penghasilan harian.

Sekarang saya mengerti, yang dilakukan ibu itu adalah budgeting. Ada beberapa metode budgeting yang diajarkan financial planner, bisa membagi dengan prosentase atau dengan menghitung besarnya kebutuhan. Tinggal disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan mana yang cocok.

2. Selalu menyisihkan untuk sedekah

Setiap menjelang lebaran, ibu dan bapak membuka uang yang di celengan lalu mengingat-ingat nama beberapa saudara lalu membuka celengan kayu dan membbagi-baginya ke beberapa amplop. Ternyata uang di celengan kayu bergembok itu untuk sedekah. Bapak dan ibu berbagi kepada tetangga dan saudara yang kurang mampu. Saya seharusnya meneladani  sifat ibu yang ini, selalu menyisihkan untuk sedekah.

Setelah anak-anaknya sudah berkeluarga, ibu juga menyisihkan uang dan dimasukkan ke beberapa celengan sejumlah cucunya. Sekarang cucu ibu ada 7, jadi ibu punya 7 celengan plastik. Saat lebaran, cucu-cucunya alias anak saya dan kakak-kakak saya mendapat jatah masing-masing satu celengan untuk THR. Horeee wkwk.

3. Rajin menabung

Selain punya celengan, ibu dulu juga ikut arisan bersama para pedagang di pasar, kalau tidak salah dulu sehari 20.000 dan dikocok tiap 10 hari. Hasilnya lumayan, beberapa juta. Untuk keluarga kami jumlah itu cukup besar. Ibu juga bisa menabung dari situ. Karena ibu tidak mengerti dengan investasi, jadi ibu menabung dengan cara-cara tradisional seperti itu. 

Berbeda dengan sekarang, instrumen investasi ada berbagai macam. Bisa dari modal kecil, dengan risiko rendah hingga tinggi. Akses untuk mendapat informasi tentang  berbagai investasi juga sangat banyak,  sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

4. Tidak mudah berhutang dan tidak neko-neko

Ibu adalah tipe orang yang tidak mudah berhutang kepada orang lain. Seingat saya, benda di rumah saya yang dibeli dengan kredit adalah motor "legenda" untuk kakak pertama saya pergi sekolah, saat itu dia sudah SMA. Bahkan motor tersebut sampai diturunkan ke saya ketika saya SMA, tapi saya lebih suka diantar daripada naik motor sendiri. Setelah motor itu tidak pernah lagi ibu kredit barang, apalagi setelah paham bahwa hal tersebut adalah riba.

Bapak dan ibu juga tidak neko-neko, tidak memaksakan hidup dengan prinsip BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita). Bahkan setelah anak-anaknya lepas tanggungan pun tetap begitu. Dulu ketika bapak ingin sekali beli mobil, butuh waktu berbulan-bulan untuk mempertimbangkannya. Apakah benar-benar butuh atau tidak. Akhirnya bapak membeli mobil bekas dibayar tunai.

Ini prinsip lain orang tua saya yang patut saya teladani, tidak mudah berhutang dan memilih menabung dulu untuk membeli barang-barang daripada kredit, apalagi untuk barang yang nilainya menyusut seperti mobil dan alat elektronik.

Itulah beberapa cara tradisional ibu saya dalam mengatur keuangan. Kini bapak sudah pensiun  dan usaha ibu masih berjalan. Walaupun tidak pernah belajar tentang investasi untuk dana pensiun, alhamdulillah bapak dan ibu sekarang sangat berkecukupan sehingga tidak membentuk generasi sandwich.  Karena kecermatan ibu menjadi manajer keuangan, alhamdulillah kami tidak pernah merasa kekurangan.

 Walaupun uang bukanlah segalanya dan uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi mengatur uang dengan benar bisa membawa kesejahteraan hidup.





Post a Comment

2 Comments

  1. Sukses menjadi peniru kebaikan dan pencetus kebaikan ya sahabat kecil q😍saya bangga pada mu

    ReplyDelete