Mudik Lebaran Di Tengah Pandemi, Yes or No?


 

Akhir Januari

“Ini, ada tiket ke jogja murah ni,” Pak suami menunjukkan status WA temannya yang menjual tiket promo.

“Coba tanya, bisa buat lebaran nggak?” Saya pun excited.

“Bisa katanya.”

Saat itu juga kami langsung memesan tiket pulang pergi Pekanbaru-Jogja untuk mudik lebaran. Tahun ini rencananya kami mudik ke Sragen, kampung halaman saya. Penerbangan terdekat dari Pekanbaru adalah ke Jogja. Dari Jogja ke Sragen lanjut perjalanan darat sekitar 2-3 jam.

“Umi, kapan mudik?” Khanza sangat semangat ingin mudik dan mulai menghitung hari menuju lebaran, padahal masih lama.

Akhir Maret

“Gimana nih, jumlah kasusnya tambah terus?” Saya mulai was-was karena Covid-19. “Prediksinya lebaran belum selesai.”

“Yaudah, direfund aja tiketnya.” Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan mudik, untung tiketnya bisa direfund walaupun prosesnya lama.

Menjelang lebaran

Saya melihat berita bandara Soetta mulai dibuka, banyak calon penumpang terlihat berkerumunan di sana. Entahlah, katanya penerbangan terbatas dan harus membawa izin bepergian. Transportasi lain pun sudah mulai diizinkan untuk beroperasi. Bagaimana rasanya melihat itu?

“Kuingin marah, melampiaskan. Tapi ku hanyalah sendiri di sini. Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada, bahwa hatiku kecewa”, lagu mbak BCL ini cukup mewakili perasaan.

 
Lalu kenapa tidak mudik saja?

Tahun ini kedua kalinya kami tidak mudik, berlebaran di tanah rantau. Pertama kalinya, 5 tahun lalu. Saat itu hari perkiraan persalinan saya adalah menjelang lebaran. Benar saja, Khanza lahir di malam takbiran sehingga kami lebaran di rumah sakit.

Tahun ini pun kami batal mudik. Walaupun transportasi sudah dibuka, dan tidak ada ketegasan larangan mudik, saya sekeluarga tetap memutuskan untuk tidak mudik. Bukan karena telanjur merefund tiket. Namun, ada alasan yang lebih krusial dibanding itu. Kami tidak mau menjadi bagian dari orang yang abai.

Saya tidak punya kuasa untuk mengatur orang-orang di luar sana, tapi saya punya kuasa untuk mengatur keluarga saya. Karena di dunia ini hanya ada dua hal, yaitu yang bisa dikontrol dan tidak. Irisan dari dua hal tersebut adalah wisdom, kebijaksanaan. Perlu kebijaksanaan untuk mengambil keputusan di tengah semua hal ini. Berikut beberapa alasan kami tetap tidak mudik lebaran:

1. Sulit melakukan physical distancing

Di masa pandemi ini, kita harus menjaga jarak lebih dari satu meter dari orang lain untuk mencegah penularan. Physical distancing akan sulit dilakukan selama perjalanan mudik, apalagi jika menggunakan transportasi umum. Kita akan bertemu dan bersama dengan pemudik lain yang tidak kita kenal. Kita tidak tahu apakah orang yang satu transportasi dengan kita tersebut benar-benar sehat atau tidak, bisa saja ada carrier di antaranya. Dengan begitu, penularan virus akan mudah terjadi.

2. Khawatir menjadi carrier

Sulitnya physical distancing dan berkerumun dengan orang lain selama perjalanan mudik bisa menjadi saran penularan virus. Mungkin saja kita benar-benar sehat sebelum mudik, tetapi di perjalanan kita bisa tertular tanpa kita  sadari. Dengan begitu kita menjadi carrier atau orang tanpa gejala yang bisa menularkan kepada orang lain. Pastinya kita tidak ingin menjadi pembawa penyakit untuk keluarga. Jangan sampai kita pulang kampung dengan membawa oleh-oleh virus.

Selain itu, mudik dari daerah zona merah atau daerah dengan kasus covid-19 yang tinggi, misalnya Jakarta juga rentan menularkan. Bisa jadi seseorang merasa sehat-sehat saja hingga merasa yakin aman-aman saja untuk mudik tanpa tahu jika ternyata dirinya adalah carrier.

 3. Sampai di kampung pun harus isolasi mandiri 14 hari

Beberapa daerah sudah menerapkan aturan untuk isolasi mandiri jika berasal dari luar kota. Hal itu tentunya untuk mencegah penularan, khawatirnya para pemudik itu ternyata membawa virus. Kampung halaman saya pun menerapkan aturan itu. Bahkan sempat ada berita viral bahwa di Sragen, jika tidak mau isolasi mandiri akan dibawa ke gedung berhantu untuk isolasi. Duh, males banget kan. Sudah jauh-jauh mudik malah harus “terpenjara”, apesnya jika harus ditambah uji nyali bersama makhluk gaib.

Daripada begitu, saya pilih menunda mudik, menunda entah sampai kapan. “Emang nggak kangen sama keluarga?” Tentu saja kangen, rindu. Rindu sekarang bisa diatasi dengan video call, walaupun tetap tidak bisa menggantikan rasanya bertemu secara  langsung. Namun, jangan sampai rindu membawa penyakit. Jangan sampai demi mengobati rindu dengan bertemu justru berujung penyesalan.

Tiga alasan di atas cukup membuat kami untuk tidak mudik  tahun ini. Semoga saja pandemi ini bisa segera teratasi sehingga kita bisa beraktivitas secara normal lagi. Kalau teman-teman mudik atau tidak?

 


Post a Comment

0 Comments