Kisah Seru Para Dokter di “Hospital Playlist”, Bukan Drama Medis Biasa



Awalnya saya kurang tertarik dengan drama Korea berjudul “Hospital Playlist” ini. Dari judulnya saja sudah pasti drama ini bertema medis. Entah kenapa saya sedang kurang tertarik dengan drama bertema medis, padahal saya sendiri adalah tenaga medis. Namun, drama ini banyak yang suka dan merekomendasikan. Ya sudah saya coba nonton episode satu. Dari awal saja sudah ada adegan pasien henti jantung dan diresusitasi di lokasi kejadian. Di episode awal belum ada sesuatu yang membuat saya tertarik untuk menantikan kelanjutan episode drama ini. Hingga saya melihat beberapa cuplikan yang lewat di Instagram, kok sepertinya makin menarik ya.

Pada akhirnya saya lanjut nonton dan saya justru sangat suka sampai tidak sabar menunggu kelanjutan tiap episodenya. Hospital Playlist hanya tayang satu episode per minggu, bayangkan betapa penasarannya para penggemar. Total episodenya pun hanya 12, tidak seperti sinetron Indonesia yang biasa ribuan episode. Kenapa saya memilih nonton drama yang ongoing bukannya drama yang sudah tamat? Karena hal itu adalah salah satu cara saya mengontrol diri agar bisa membatasi waktu untuk nonton. Nonton drama yang sudah lengkap episodenya bisa membuat lepas kendali untuk binge watching alias nonton secara maraton sampai tamat daripada mati penasaran, kayak yang di  suatu lagu, “sungguh mati aku jadi penasaran.”

Kembali ke Hospital Playlist. Drama ini memang bertema medis, tapi bukan drama medis yang biasa. Ceritanya sangat ringan, tidak harus mikir berat seperti kebanyakan drama medis, jadi tidak usah khawatir nggak mudeng. Awalnya saya kira drama ini akan mengisahkan seorang dokter dengan kemampuan atau kecerdasan tingkat dewa hingga dapat menghidupkan orang mati seperti Kim Sabu. Dugaan saya ternyata salah. Drama ini lebih ke slice of life, menceritakan dinamika kehidupan orang-orang di rumah sakit. Berikut sedikit review saya yang tentunya mengandung spoiler.

Lima tokoh utamanya disebut geng 99 atau five minus

Tokoh utama drama ini terdiri dari 5 orang berusia 40 tahun yang berteman sejak awal kuliah. Mereka merupakan dokter spesialis yang berbeda-beda, yaitu

  1.  Lee Ik Jun yang diperankan oleh Jo Jung Suk. Dia adalah sang jenius yang bisa segala hal sebagai spesialis bedah umum.
  2. Chae Song Hwa yang diperankan oleh Joen Mido, merupakan satu-satunya perempuan di geng 99. Chae Song Hwa adalah profesor bedah saraf yang sangat berdedikasi dan pendengar yang baik.
  3. Ahn Jeon Won seorang spesialis bedah anak yang diperankan oleh Yoo Yeon Seok. Dia adalah orang yang sangat penyayang dan peduli pada pasiennya, serta bercita-cita menjadi pastor
  4. Kim Jun Wan diperankan oleh Jung Kyung Ho, seorang spesialis bedah kardiothoraks yang selalu berapi-api. Dia adalah food buddynya Chae Song Hwa tapi sering berebut makanan dengan Ik Jun.
  5. Yang Seok Hyeong diperankan oleh Kim Da Myung sebagai sosok yang penuh misteri dan suka menyendiri. Dia adalah spesialis obgyn.


Karakter mereka berbeda-beda dan mempunyai keunikan tersendiri. Yang membuat drama ini lebih lain dari yang lain adalah mereka berlima membentuk grup band. Keren ya, kumpulan dokter spesialis yang juga jago ngeband. Dalam band tersebut, Chae Song Hwa adalah orang yang buta nada tapi sangat berambisi menjadi vokalis. Padahal, Joen Mido aslinya adalah artis teater musikal. Kabarnya, para pemain sampai berlatih sampai berbulan-bulan, jadi bukan sekadar gimmick atau lipsync, tapi beneran nyanyi dan mainin alat musik lho.

Kehangatan persahabatan dan relasi rekan kerja di rumah sakit 

Menonton drama ini membuat saya iri, di usia 40 tahun mereka masih mempunyai geng yang bisa menjadi tempat berbagi suka duka, dan sangat bisa diandalkan. Apa kabar saya yang baru menjelang 30 tahun hanya bisa menjangkau teman dekat melalui media sosial?

Tidak hanya kisah mereka berlima, para penonton juga disuguhkan kisah kehidupan para dokter residen, yaitu dokter yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi dokter spesialis. Ada hal yang membuat saya heran sekaligus iri, dokter residen di sana tidak banyak. Residen bedah umum saja hanya ada satu sehingga tiap ada operasi menjadi rebutan. Sangat berbeda dengan tempat saya kuliah dulu, jumlah residennya sangat banyak. Sampai-sampai saat sedang jaga IGD, satu pasien bisa dikerubung beberapa dokter, belum lagi jika ada koas bergabung.


Daaan, dokter residen di sana mendapat gaji, tapi sepertinya memang dokter residen di luar negeri digaji ya. Apakah cuma di Indonesia saja yang dokter residen justru harus bayar SPP, padahal kerja keras bagai quda tanpa kenal  hari libur? Saya sangat salut kepada teman-teman saya yang sedang menjadi residen. Apalagi yang sudah berkeluarga, sungguh butuh effort yang amat besar untuk menyeimbangkannya.

Ok, kembali lagi ke topik. Hubungan dokter spesialis dengan residen pun cukup dekat, bahkan lintas bagian dan tidak ada senioritas. Lee Ik Jun bisa mengenal residen dari departemen lain, hingga menjadi teman curhat bahkan mak comblang. Mereka juga sering makan bersama di kantin bahkan di luar rumah sakit. 

Banyak juga kisah pasien yang diceritakan, tapi tidak ada penanganan yang dramatis hingga turun keajaiban. Semuanya diceritakan secara normal. Perjuangan pasien untuk bertahan menunggu donor organ, tangis pasien yang janinnya meninggal di dalam rahim, kisah bayi yang menderita kelainan jantung bawaan, pasien perdarahan otak yang perlu dioperasi belasan jam, dan masih banyak lagi. Semua kisah dan tindakan medis ditampilkan serealis mungkin. Tenang saja, tidak ada adegan selang infus malah jadi selang oksigen.

Tidak ada tokoh antagonis di drama ini. Hanya satu yang annoying, yaitu seorang pelakor tapi langsung beres dengan disiram air bekas ngepel rumah sakit. Tidak ada konflik yang sangat menonjol hingga menguras emosi. Karena itu drama ini sangat heart warming dengan bumbu komedi dan adegan konyolnya.

Kisah Romansa? Tentu ada

Mungkin bagai sayur tanpa garam drama korea tanpa kisah romantis. Walaupun lebih banyak waktu dihabiskan di rumah sakit, tetap ada kisah asmara para dokter ini, berikut beberapa lovelinenya:


  • Kisah cinta bertepuk sebelah tangan Yang Seok Hyang kepada Chae Song Hwa semasa kuliah;
  • Kisah Kim Jun wan dengan Lee Ik Sun yang ternyata mempunyai perbedaan prinsip;
  • Perjuangan residen bedah umum bernama Jang Gyeoul yang harus bersaing dengan Tuhan untuk mendapat cinta dari Ahn Jeong won karena Ahn Jeong Won berniat menjadi pastor;
  • Kisah cinta dua residen bedah saraf;
  • Perjuangan residen obgyn bernama Chu Min Ha untuk mendapat perhatian Yang Seok Hyeong;
  • Serta kisah Lee Ik Jun dan Chae Song Hwa yang belum jelas akhirnya.

Ada perjuangan dan kisah unik di balik setiap loveline, untuk mengetahui detailnya langsung tonton saja!

Original Soundtracknya bagus

Hanya ada beberapa drama Korea yang saya cari soundtracknya untuk menemani kegiatan di rumah seperti nyapu, ngepel, dan cuci piring. Beberapa OST drama korea yang saya suka adalah Full House, The Heirs, Descendant of the sun, dan hospital playlist. Beberapa pemain hospital playlist juga ikut menyumbang suara, tentu saja band geng 99 juga termasuk. Penampilan band mereka, yang kini disebut mido & falasol ini memang selalu ditunggu. Dua penampilan mereka yang menjadi favorit saya adalah remake canon dan ini



Baiklah, sekian review disertai curhat dari saya yang sudah tidak sabar menunggu season 2. Jadi, apakah para pembaca penasaran bagaimana kisah mereka? Tonton sendiri ya hehehe..

 

 

 


Post a Comment

0 Comments